Kebaya Indonesia Dipromosikan di Museum Seni Asia San Francisco

Kebaya Indonesia Dipromosikan di Museum Seni Asia San Francisco

Rizky Ananda

Last Updated: 29 July 2026, 01:00

Bagikan:

kebaya indonesia
Foto: Antara News
Table of Contents

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco menyelenggarakan pameran kebaya dan budaya Indonesia di Asian Art Museum San Francisco. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional sekaligus memperkuat diplomasi kebudayaan antara Indonesia dan Amerika Serikat, seperti diberitakan Antara News.

Konsul Jenderal RI di San Francisco, Yohpy Ichsan Wardana, mengatakan kebaya telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2024. Menurutnya, kebaya merupakan cerminan identitas dan sejarah Indonesia serta simbol warisan budaya bersama Asia Tenggara.

Gelar Budaya Tampilkan Ragam Kebaya Indonesia

“Kebaya mengajarkan bahwa warisan budaya tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga terus hidup dan berkembang mengikuti zaman,” kata Yohpy saat pembukaan gelar budaya “Kebaya at the Museum” pada Sabtu (25/7).

Menurut dia, melalui budaya, bangsa Indonesia dapat membangun rasa saling pengertian, mempererat persahabatan antarbangsa, serta memperkuat people-to-people diplomacy. Dalam acara tersebut, dilaksanakan gelar busana kebaya oleh Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) San Francisco. Gelar busana tersebut menampilkan beragam jenis kebaya Indonesia, seperti kebaya Kartini, kebaya encim, kebaya modern, dan kebaya pengantin.

Sementara itu, pendiri Tracing Patterns Foundation, Dr. Sandra Sardjono, menyampaikan penjelasan mengenai evolusi kebaya selama lebih dari empat abad. Ia mengulik arsip sejarah, karya seni, dan koleksi tekstil dalam pemaparannya.

KJRI San Francisco Hadirkan Pertunjukan Seni dan Kuliner Indonesia

Selain penampilan kebaya, KJRI San Francisco juga menghadirkan ansambel gamelan dan tari tradisional Sunda serta gerai interaktif kaligrafi Aksara Jawa. Pengunjung juga disuguhkan sajian khas Nusantara seperti rendang, ayam bakar, dan kopi Gayo asal Aceh.

Wakil Direktur dan Kurator Utama Asian Art Museum, Dr. Robert Mintz, menyampaikan apresiasi kepada KJRI San Francisco yang berperan memperkaya khazanah budaya di San Francisco dan wilayah sekitarnya melalui kegiatan tersebut.

“Kami ingin Asian Art Museum menjadi tempat di mana tradisi budaya Asia tidak hanya dipamerkan sebagai objek sejarah, tetapi juga dihidupkan melalui cerita, musik, seni pertunjukan, dan interaksi dengan masyarakat di Bay Area,” kata Mintz.

Selain itu, Direktur Eksekutif Asia Society Northern California sekaligus mantan koresponden ABC News di Jakarta, Margaret Conley, menilai agenda tersebut efektif dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.

KJRI San Francisco mencatat bahwa acara tersebut pada 25 Juli dihadiri oleh lebih dari 300 pengunjung. Para pengunjung berasal dari korps diplomatik, komunitas budaya dan tekstil, diaspora Indonesia, serta publik AS.

Penutup

Pameran ini menjadi wujud nyata diplomasi budaya Indonesia melalui pelestarian dan promosi kebaya di tingkat internasional. Kehadiran berbagai elemen budaya, mulai dari busana, seni pertunjukan, hingga kuliner, memperkenalkan kekayaan tradisi Nusantara kepada masyarakat global. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus memperkuat apresiasi dunia terhadap warisan budaya Indonesia.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar budaya, cerita & identitas, kolaborasi & ruang budaya, kreativitas lokal, seni & ekspresi, serta warisan & tradisi dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami.

/ Search /

/ Artikel Lainnya /