Lom Plai merupakan tradisi adat masyarakat Dayak Wehea di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang berfungsi sebagai ritual syukur atas hasil panen padi sekaligus simbol pelestarian budaya lokal. Masyarakat Dayak Wehea menjaga tradisi Lom Plai melalui rangkaian ritual adat, tarian sakral, doa bersama, dan pesta panen yang melibatkan seluruh warga desa. Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun (detikTravel, 2024).
Tradisi Lom Plai Menjadi Ritual Syukur Masyarakat Dayak Wehea
Masyarakat Dayak Wehea melaksanakan Lom Plai setiap selesai musim panen padi. Ritual tersebut berlangsung di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Pemerintah daerah dan masyarakat adat menjadikan Lom Plai sebagai agenda budaya tahunan yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara.
Tradisi Lom Plai memiliki makna penting bagi masyarakat Dayak Wehea karena ritual tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada alam dan Sang Pencipta. Masyarakat adat percaya bahwa hasil panen yang melimpah berasal dari keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan sekitar (ANTARA, 2013).
Ritual Ngesea Egung menjadi penanda dimulainya rangkaian adat Lom Plai melalui pemukulan gong sakral oleh keturunan raja adat (detikTravel, 2024).
Makna Nama Lom Plai dalam Budaya Dayak Wehea
Nama Lom Plai memiliki filosofi mendalam dalam budaya Dayak Wehea. Istilah tersebut memiliki arti harapan agar masyarakat memperoleh kesehatan, keselamatan, dan umur panjang dalam kehidupan sehari-hari (detikKalimantan, 2025).
Masyarakat Dayak Wehea mempertahankan makna tersebut melalui berbagai ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun. Tetua adat memimpin prosesi doa dan pembacaan mantra sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Rangkaian Ritual Lom Plai yang Masih Dilestarikan
Tradisi Lom Plai memiliki beberapa tahapan ritual yang berlangsung selama beberapa minggu. Setiap tahapan memiliki fungsi sosial dan spiritual bagi masyarakat adat.
Berikut beberapa rangkaian ritual penting dalam tradisi Lom Plai:
- Ngesea Egung menjadi prosesi pembukaan melalui pemukulan gong sakral.
- Embob Jengea menjadi puncak pesta panen yang melibatkan seluruh warga.
- Seksiang menghadirkan tradisi perang-perangan di atas perahu.
- Peknai menghadirkan ritual saling menyiram air dan mengoles arang sebagai simbol kebersamaan.
- Tarian Hudoq menghadirkan tarian sakral untuk menghormati roh leluhur.
Ritual Embob Jengea menjadi bagian penting dalam puncak perayaan Lom Plai yang menghadirkan doa syukur dan pesta adat masyarakat Wehea (ANTARA, 2013).
Berbagai ritual dalam Lom Plai memperlihatkan semangat gotong royong masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga warisan leluhur dan hubungan sosial antarmasyarakat (detikTravel, 2024).
Desa Nehas Liah Bing Menjadi Pusat Tradisi Lom Plai
Desa Nehas Liah Bing menjadi pusat pelaksanaan Lom Plai karena desa tersebut merupakan wilayah adat masyarakat Dayak Wehea. Masyarakat adat melaksanakan berbagai ritual budaya di desa tersebut setiap selesai masa panen padi (detikTravel, 2024).
Masyarakat desa menjaga kawasan hutan adat dan lingkungan sekitar melalui aturan adat yang ketat. Tradisi Lom Plai memperlihatkan bahwa masyarakat Dayak Wehea tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga melindungi alam sebagai sumber kehidupan (ANTARA, 2013).
Lom Plai Mendukung Wisata Budaya Kalimantan Timur
Tradisi Lom Plai menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan kehidupan masyarakat Dayak Wehea kepada wisatawan dari berbagai daerah. Festival tersebut menghadirkan berbagai ritual adat, tarian tradisional, dan pesta panen yang melibatkan seluruh masyarakat adat (detikTravel, 2024).
Tradisi Lom Plai memberikan manfaat besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Wisatawan yang datang ke Desa Nehas Liah Bing dapat menyaksikan ritual adat secara langsung sekaligus mengenal budaya Dayak Wehea.
Berikut manfaat Lom Plai bagi masyarakat dan pariwisata:
- Tradisi Lom Plai memperkuat identitas budaya Dayak Wehea.
- Festival Lom Plai meningkatkan kunjungan wisata budaya.
- Kegiatan adat Lom Plai mendukung ekonomi masyarakat lokal.
- Ritual Lom Plai memperkenalkan nilai konservasi lingkungan.
- Tradisi Lom Plai memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Tradisi Lom Plai memperlihatkan keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman modern (detikKalimantan, 2025).
Nilai Spiritual Lom Plai Tetap Relevan di Era Modern
Tradisi Lom Plai tetap relevan karena masyarakat Dayak Wehea mempertahankan nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan solidaritas sosial. Ritual tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan manusia dengan lingkungan sekitar.
Generasi muda Dayak Wehea juga ikut terlibat dalam pelaksanaan ritual adat. Anak-anak hingga orang tua mengikuti berbagai prosesi budaya sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur (detikTravel, 2024).
Masyarakat adat percaya bahwa pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, berbagai kegiatan budaya dalam Lom Plai terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tradisi tidak hilang akibat perubahan zaman.
Tradisi Lom Plai Menjadi Simbol Identitas Budaya Kalimantan Timur
Tradisi Lom Plai menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat modern. Masyarakat Dayak Wehea menjaga ritual adat tersebut sebagai simbol rasa syukur, identitas budaya, dan penghormatan terhadap alam. Festival tersebut juga memperlihatkan kekayaan budaya Kalimantan Timur yang masih bertahan hingga sekarang.
Pembaca dapat menemukan berbagai artikel budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk mengenal tradisi nusantara yang unik dan sarat makna. Artikel budaya lain di Negeri Kami juga menghadirkan informasi mengenai ritual adat, kuliner tradisional, hingga sejarah masyarakat lokal di Indonesia.
Referensi

