Sejarah Kota Solo bermula dari keputusan Susuhunan Pakubuwono II yang memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Kartasura ke Desa Sala pada 17 Februari 1745 setelah keraton lama rusak akibat Geger Pecinan. Keputusan politik tersebut melahirkan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat pemerintahan baru yang kemudian dikenal masyarakat luas sebagai Solo (Kompas.com, 2023; detikJateng, 2022).
Geger Pecinan 1740–1743 Menghancurkan Kartasura dan Memicu Lahirnya Surakarta
Geger Pecinan mengguncang stabilitas Kerajaan Mataram pada periode 1740–1743. Konflik tersebut merusak Keraton Kartasura dan melemahkan legitimasi kekuasaan raja. Dalam situasi tersebut, Pakubuwono II menilai keraton lama tidak lagi layak menjadi pusat pemerintahan sehingga raja memerintahkan pencarian lokasi baru. Perpindahan pusat kekuasaan itu kemudian dikenal sebagai Boyong Kedaton yang menandai berdirinya Surakarta (Kompas.com, 2023).
Peristiwa tersebut memunculkan dampak berikut:
- Keraton Kartasura kehilangan fungsi politik utama.
- Elite kerajaan menyusun strategi pemindahan pusat kekuasaan.
- Desa Sala dipilih sebagai lokasi baru yang lebih aman secara geografis.
Desa Sala Menjadi Surakarta Hadiningrat pada 17 Februari 1745
Pakubuwono II menetapkan Desa Sala sebagai pusat pemerintahan baru pada 17 Februari 1745. Raja mendirikan Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai simbol kelanjutan Dinasti Mataram. Nama Surakarta digunakan sebagai nama resmi kerajaan, sedangkan masyarakat tetap menyebut wilayah tersebut sebagai Solo yang berasal dari kata Sala. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi Kota Surakarta (detikJateng, 2022; Suara.com, 2025).
Pemilihan Desa Sala memiliki alasan berikut:
- Lokasi berada di tepi Bengawan Solo yang strategis.
- Wilayah memiliki kondisi tanah yang dianggap lebih baik.
- Kawasan relatif aman dari konflik sebelumnya.
Asal-Usul Nama Solo dalam Sejarah Kota Solo
Nama Solo berasal dari kata Sala yang merupakan nama desa awal sebelum menjadi pusat kerajaan. Pelafalan Sala berubah menjadi Solo dalam penggunaan masyarakat Jawa dan administrasi kolonial. Istilah Surakarta merujuk pada nama resmi kerajaan, sedangkan Solo menjadi nama populer yang digunakan hingga sekarang (Kompas.com, 2022).
Perbedaan istilah tersebut mencerminkan:
- Surakarta sebagai nama formal pemerintahan.
- Solo sebagai nama kultural dan populer.
- Sala sebagai nama historis wilayah awal.
Perjanjian Giyanti 1755 Mempertegas Posisi Surakarta
Perjanjian Giyanti membagi wilayah Mataram menjadi dua kekuasaan pada 1755. Kesepakatan politik itu menetapkan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta sebagai entitas berbeda. Pembagian wilayah tersebut mempertegas posisi Surakarta sebagai pusat Kasunanan sekaligus memperluas pengaruh politik Belanda dalam urusan kerajaan (Kompas.com, 2023).
Dampak perjanjian tersebut meliputi:
- Surakarta berperan sebagai pusat budaya Jawa klasik.
- Keraton Surakarta mempertahankan struktur tradisional.
- Belanda memperkuat pengaruh politik melalui perjanjian resmi.
Perkembangan Kota Solo dari Kerajaan ke Kota Modern
Pemerintah Republik Indonesia mengintegrasikan Surakarta ke dalam Provinsi Jawa Tengah setelah kemerdekaan 1945. Pemerintah pusat menghapus status daerah istimewa Surakarta pada 1946 akibat dinamika politik lokal. Perubahan tersebut mengubah Surakarta menjadi kota administratif modern yang tetap mempertahankan identitas budaya keraton (Kompas.com, 2023).
Perkembangan modern tersebut mencakup:
- Pembentukan struktur pemerintahan kota.
- Pengembangan sektor perdagangan dan pendidikan.
- Pelestarian Keraton Surakarta sebagai simbol budaya.
Warisan Budaya sebagai Bukti Nyata Sejarah Kota Solo
Keraton Surakarta mempertahankan tradisi Jawa melalui upacara adat dan kesenian. Masyarakat Solo melestarikan batik, wayang, dan gamelan sebagai identitas kota. Kekayaan budaya tersebut menjadikan Solo dikenal sebagai Kota Budaya dan memperkuat citra historisnya di tingkat nasional (Suara.com, 2025).
Warisan tersebut tercermin dalam:
- Tradisi Sekaten dan Grebeg.
- Kampung Batik Laweyan dan Kauman.
- Festival budaya tahunan tingkat nasional.
Keberlanjutan tradisi tersebut menunjukkan bahwa sejarah Kota Solo membentuk karakter sosial dan budaya masyarakat hingga masa kini.
Sejarah Kota Solo menunjukkan bahwa perpindahan Keraton Mataram ke Desa Sala pada 1745 menjadi fondasi berdirinya Surakarta Hadiningrat. Peristiwa Boyong Kedaton membuktikan bahwa dinamika politik dapat melahirkan pusat peradaban baru yang bertahan lebih dari dua abad (Kompas.com, 2023).
Pembaca dapat menemukan artikel sejarah dan budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk memperluas wawasan tentang kota-kota bersejarah di Indonesia. Selain itu, pembaca juga dapat menjelajahi berbagai ulasan mendalam dan referensi terpercaya lainnya di Negeri Kami sebagai sumber informasi yang kredibel.
Referensi