Ritual Mosehe Wonua merupakan tradisi adat masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara yang dipercaya sebagai upacara penyucian negeri atau tolak bala. Tradisi ini masih rutin digelar dan melibatkan tokoh adat serta pemerintah daerah.
Di tengah perubahan sosial dan modernisasi, Ritual Mosehe Wonua tetap dipertahankan sebagai bagian penting identitas budaya. Selain bernilai spiritual, ritual ini juga menjadi simbol persatuan masyarakat.
Ritual Mosehe Wonua sebagai Tradisi Penyucian Negeri
Secara harfiah, “mosehe” berarti menyucikan, sedangkan “wonua” berarti negeri atau wilayah. Karena itu, Ritual Mosehe Wonua dimaknai sebagai upacara penyucian suatu daerah dari marabahaya, konflik, maupun bencana.
Ritual ini digelar sebagai bentuk tolak bala dan permohonan keselamatan bagi masyarakat. Tokoh adat menjelaskan bahwa mosehe dilakukan untuk membersihkan kesalahan dan memohon perlindungan agar daerah terhindar dari musibah (ANTARA Sultra, 2023).
Selain itu, Mosehe Wonua sebagai warisan budaya masyarakat Tolaki dan Mekongga yang sarat nilai spiritual serta dijalankan secara turun-temurun (Dispar Kolaka, n.d.).
Prosesi Sakral dalam Ritual Mosehe Wonua
Dipimpin Tokoh Adat
Ritual Mosehe Wonua dipimpin langsung oleh tetua adat. Prosesi diawali dengan doa-doa adat dan pembacaan mantra khusus yang diwariskan secara turun-temurun.
Pelaksanaan ritual biasanya berlangsung di lokasi yang dianggap sakral atau memiliki nilai historis. Masyarakat hadir sebagai bentuk partisipasi kolektif dalam memohon keselamatan bersama.
Penyembelihan Hewan Kurban
Dalam sejumlah pelaksanaan, terdapat penyembelihan hewan kurban seperti kerbau atau sapi sebagai simbol pengorbanan dan pembersihan wilayah dari bala. Prosesi ini dilakukan secara khidmat sesuai tata cara adat.
Ritual tersebut tetap dilaksanakan dengan menjaga nilai sakral dan budaya lokal, serta melibatkan unsur pemerintah daerah (ANTARA Sultra, 2023).
Klarifikasi Soal Isu Keagamaan
Ritual Mosehe Wonua sempat menjadi perbincangan publik. Namun, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa ritual adat ini tidak bertentangan dengan ajaran agama selama tidak mengandung unsur penyimpangan (ANTARA Sultra, 2023).
Penegasan tersebut menunjukkan bahwa Ritual Mosehe Wonua dipandang sebagai tradisi budaya, bukan praktik keagamaan yang menyimpang.
Nilai Sosial dan Identitas Budaya
Ritual Mosehe Wonua bukan sekadar seremoni adat. Tradisi ini menjadi ruang konsolidasi sosial ketika masyarakat menghadapi persoalan bersama. Melalui ritual tersebut, warga diajak kembali bersatu dan meninggalkan konflik.
Selain itu, pelibatan pemerintah daerah dalam pelaksanaannya memperlihatkan bahwa Ritual Mosehe Wonua telah menjadi bagian dari agenda pelestarian budaya daerah. Hal ini sekaligus memperkuat identitas suku Tolaki di tengah keberagaman Indonesia.
Dengan dokumentasi media dan dukungan pemerintah, Ritual Mosehe Wonua memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Meski demikian, nilai sakralnya tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan.
Ritual Mosehe Wonua membuktikan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan modern. Upacara ini bukan hanya simbol tolak bala, tetapi juga wujud persatuan dan kearifan lokal masyarakat Tolaki.
Pelestarian Ritual Mosehe Wonua menjadi tanggung jawab bersama agar warisan budaya ini tidak hilang ditelan zaman. Untuk membaca ulasan budaya Nusantara lainnya, jangan lewatkan artikel terbaru hanya di Negeri Kami.
Referensi

