Tari Lulo Sangia dalam Ritual Mosehe Wonua: Jejak Sakral Tolaki Mekongga yang Bertahan Sejak Abad Ke-16

Tari Lulo Sangia dalam Ritual Mosehe Wonua: Jejak Sakral Tolaki Mekongga yang Bertahan Sejak Abad Ke-16

Last Updated: 20 February 2026, 12:27

Bagikan:

Tari Lulo Sangia Sakral
Tari Lulo Sangia bukan sekadar gerakan melingkar, tetapi simbol persatuan dan spiritualitas masyarakat Tolaki Mekongga yang terus hidup hingga kini. Sumber gambar: etnis.id

Tari Lulo Sangia merupakan salah satu tarian tradisional paling sakral yang dimiliki masyarakat Tolaki Mekongga di Sulawesi Tenggara. Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari ritual adat yang sarat makna spiritual dan historis.

Sebagai bagian dari upacara adat Mosehe Wonua atau pensucian negeri, Tari Lulo Sangia dipentaskan untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta keharmonisan antara manusia dan alam. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan masih dipertahankan hingga kini.

Sejarah dan Asal-usul Tari Lulo Sangia

Tari Lulo Sangia berakar dari kebudayaan masyarakat Tolaki Mekongga yang berkembang sejak abad ke-16. Tarian ini dipercaya memiliki kaitan dengan ritual penyembuhan dan keselamatan masyarakat adat (Sentralsultra.id, 2025).

Dalam sejumlah catatan media lokal, Tari Lulo Sangia kerap menjadi bagian pembuka dalam ritual Mosehe Wonua, yakni upacara adat untuk menyucikan kampung atau menolak bala (TriasPolitika.id, 2020).

Makna Filosofi Tari Lulo Sangia

Tari Lulo Sangia bukan sekadar gerakan ritmis, tetapi simbol komunikasi spiritual antara manusia dan Sangia atau kekuatan adikodrati dalam kepercayaan masyarakat Tolaki. Gerakan melingkar yang dilakukan para penari melambangkan persatuan dan keseimbangan hidup.

Gerakan menginjak-injak tanah secara ritmis juga memiliki makna simbolik sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen dan kehidupan yang makmur (Referensi Data Kemendikbud, 2014).

Karakteristik dan Unsur Pertunjukan

Tari Lulo Sangia biasanya dibawakan oleh tujuh atau sembilan perempuan yang mengenakan busana adat Tolaki. Tarian ini diiringi alat musik tradisional seperti gong dan gendang yang memperkuat suasana sakral dalam ritual (Sentralsultra.id, 2025).

Selain itu, pola lantai berbentuk lingkaran mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Bentuk ini menjadi simbol bahwa kehidupan masyarakat adat selalu terikat dalam satu kesatuan sosial.

Eksistensi Tari Lulo Sangia di Era Modern

Di tengah arus modernisasi, Tari Lulo Sangia tetap dipertahankan melalui festival budaya dan agenda resmi pemerintah daerah. Tarian ini bahkan kerap diperkenalkan dalam berbagai kegiatan budaya di Sulawesi Tenggara (DetikSulsel, 2023).

Upaya pelestarian juga dilakukan melalui pendidikan seni dan pelatihan di sanggar-sanggar lokal. Dengan demikian, regenerasi penari dapat terus berjalan dan nilai adat tetap terjaga.

Tari Lulo Sangia merupakan warisan budaya yang mencerminkan nilai spiritual, kebersamaan, dan identitas masyarakat Tolaki Mekongga. Tarian ini membuktikan bahwa tradisi lokal memiliki kekuatan untuk bertahan di tengah perubahan zaman.

Temukan lebih banyak kisah budaya Nusantara dan informasi menarik lainnya hanya di Negeri Kami. Jangan lewatkan artikel budaya terbaru yang mengangkat kekayaan tradisi Indonesia dari berbagai daerah.

Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Sulawesi Tenggara

Tarian

Sulawesi Tenggara

Budaya

Budaya Lainnya