Pattuqduq Towaine bukan sekadar busana atau tarian tradisional biasa. Di balik tampilannya yang elegan, terdapat nilai sejarah panjang, simbol sosial, serta filosofi budaya masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Tradisi ini menjadi salah satu identitas penting yang menunjukkan kekayaan warisan budaya Indonesia Timur.
Di tengah arus modernisasi, Pattuqduq Towaine tetap bertahan sebagai simbol kebanggaan lokal. Tradisi ini masih ditampilkan dalam upacara adat, pernikahan, hingga penyambutan tamu penting. Berbagai media nasional dan penelitian akademik menyebutkan bahwa keberlanjutan tradisi ini menunjukkan kuatnya peran budaya dalam menjaga identitas masyarakat Mandar (Kompas.com, 2021).
Apa Itu Pattuqduq Towaine? Identitas Budaya Mandar
Pattuqduq Towaine dikenal sebagai busana adat khas perempuan Mandar yang sering digunakan dalam berbagai acara tradisional dan pertunjukan tari. Busana ini mencerminkan keanggunan perempuan Mandar sekaligus menjadi simbol status sosial dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun (Kompas.com, 2021).
Ciri Khas Busana dan Aksesori Tradisional
Secara umum, pakaian ini terdiri dari atasan baju pokko atau rawang boko yang berlengan pendek dengan warna cerah, dipadukan dengan sarung tenun khas Mandar yang disebut lipaq saqbe. Aksesori tambahan seperti hiasan kepala, gelang, dan kalung emas melengkapi tampilan sehingga terlihat megah dan sakral (Liputan6, 2025).
Tidak hanya perempuan, versi sederhana juga digunakan oleh laki-laki dengan desain jas hitam dan sarung yang dililit di pinggang. Kesederhanaan desain ini melambangkan karakter laki-laki Mandar yang gesit dan praktis dalam menjalani kehidupan (Okezone, 2021).
Sejarah Pattuqduq Towaine dalam Tradisi Tari Mandar
Istilah Pattuqduq Towaine juga berkaitan erat dengan tarian tradisional Mandar, khususnya tari Pattu’du yang telah ada sejak masa kerajaan. Dalam sejarahnya, tarian ini dipentaskan oleh perempuan untuk menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang serta menghibur pasukan kerajaan (Balai Bahasa Sulawesi Selatan, tanpa tahun).
Perubahan Fungsi dari Ritual ke Pertunjukan Budaya
Seiring perkembangan zaman, fungsi tari Pattu’du mengalami perubahan. Dari ritual kerajaan, tarian ini menjadi bagian dari acara penyambutan tamu penting hingga festival budaya daerah. Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensi tradisionalnya.
Busana Pattuqduq Towaine menjadi elemen penting dalam pertunjukan tersebut karena memperkuat estetika gerakan dan makna simbolik tarian. Warna cerah dan aksesori yang dikenakan menggambarkan kegembiraan serta rasa syukur masyarakat Mandar.
Makna Filosofis dan Simbol Sosial Pattuqduq Towaine
Selain memiliki nilai estetika, Pattuqduq Towaine juga sarat makna filosofis. Setiap bagian busana memiliki simbol tertentu, mulai dari warna kain hingga motif tenun yang merepresentasikan kedudukan sosial dan nilai adat. Motif sarung lipaq saqbe, misalnya, mencerminkan identitas maritim masyarakat Mandar serta keterampilan tenun yang diwariskan secara turun-temurun (Liputan6, 2025).
Simbol Kehormatan dan Identitas Perempuan Mandar
Penggunaan aksesori emas dan hiasan kepala tidak hanya bertujuan mempercantik penampilan, tetapi juga melambangkan kemuliaan dan kehormatan. Dalam konteks adat, busana ini menegaskan peran perempuan sebagai simbol keindahan sekaligus penjaga tradisi.
Di era modern, Pattuqduq Towaine juga sering ditampilkan dalam acara nasional sebagai representasi budaya daerah. Kehadirannya di panggung nasional menunjukkan bahwa warisan lokal masih relevan dan memiliki nilai kebanggaan yang tinggi.
Pelestarian Pattuqduq Towaine di Era Modern
Pelestarian budaya menjadi tantangan tersendiri di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Namun, berbagai komunitas seni dan lembaga pendidikan mulai memasukkan tari dan busana Mandar ke dalam kurikulum serta kegiatan budaya untuk menjaga eksistensinya.
Peran Pendidikan dan Festival Budaya
Penelitian akademik menunjukkan bahwa pertunjukan tari tradisional seperti Pattu’du berperan penting dalam menjaga identitas budaya dan memperkenalkan nilai lokal kepada generasi muda. Selain itu, festival budaya dan promosi pariwisata juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian tradisi.
Pattuqduq Towaine bukan hanya busana adat atau bagian dari tarian tradisional, tetapi juga simbol identitas budaya yang mencerminkan sejarah, nilai sosial, dan filosofi masyarakat Mandar. Keberadaannya menjadi bukti bahwa tradisi dapat tetap hidup meskipun dunia terus berubah.
Melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap budaya lokal, masyarakat diharapkan semakin menghargai keberagaman tradisi Nusantara. Baca berita budaya lainnya hanya di Negeri Kami untuk mendapatkan wawasan terbaru tentang kekayaan budaya Indonesia.
Referensi

