Kuah Beulangong dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional Aceh yang tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga menyimpan nilai sosial dan budaya yang kuat. Hidangan ini biasanya hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti kenduri, peringatan keagamaan, hingga acara kebersamaan warga yang melibatkan banyak orang.
Keunikan Kuah Beulangong terletak pada proses memasaknya yang dilakukan secara gotong royong menggunakan kuali besar. Tradisi ini menjadikan makanan bukan sekadar sajian, tetapi juga simbol solidaritas dan kebersamaan masyarakat Aceh yang masih terjaga hingga kini.
Sejarah Kuah Beulangong dalam Tradisi Aceh
Kuah Beulangong berasal dari kata “beulangong” yang merujuk pada kuali atau belanga besar yang digunakan untuk memasak dalam jumlah banyak. Tradisi memasak ini telah berlangsung sejak lama dan biasanya dilakukan dalam acara keagamaan atau kenduri sebagai bentuk rasa syukur bersama masyarakat. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana makanan menjadi bagian penting dalam aktivitas sosial dan religius masyarakat Aceh (ANTARA News, 2019).
Hidangan ini umumnya menggunakan daging kambing atau sapi yang dimasak bersama nangka muda dan aneka rempah khas Aceh. Kombinasi rempah seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, dan ketumbar menghasilkan rasa gurih pedas yang khas. Selain memberikan cita rasa kuat, penggunaan rempah juga mencerminkan sejarah panjang Aceh sebagai wilayah perdagangan rempah di Nusantara.
Proses Memasak Kuah Beulangong yang Jadi Daya Tarik
Salah satu hal yang membuat Kuah Beulangong berbeda dari masakan lainnya adalah proses memasaknya yang dilakukan secara kolektif. Warga biasanya berkumpul sejak pagi untuk menyiapkan bahan, mulai dari memotong daging, meracik bumbu, hingga menjaga api agar kuah matang merata.
Tradisi memasak bersama ini bukan hanya bertujuan menghasilkan makanan dalam jumlah besar, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Dalam beberapa kegiatan seperti peringatan Nuzulul Quran atau Maulid Nabi, masyarakat memasak Kuah Beulangong sebagai bagian dari tradisi berbagi makanan kepada sesama (ANTARA News, 2024).
Selain teknik memasak tradisional, variasi resep juga menjadi ciri khas. Setiap daerah di Aceh memiliki perbedaan penggunaan rempah atau tingkat kepedasan yang memberikan identitas tersendiri pada hidangan ini.
Makna Sosial dan Filosofi Kuah Beulangong
Kuah Beulangong memiliki makna sosial yang mendalam bagi masyarakat Aceh. Hidangan ini sering disajikan dalam acara besar sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Proses memasak yang melibatkan banyak orang mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi bagian penting dari budaya lokal.
Selain itu, makanan ini biasanya dibagikan kepada masyarakat luas tanpa memandang status sosial. Tradisi tersebut memperlihatkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang kuat, di mana makanan menjadi sarana mempererat hubungan antarindividu (ANTARA News, 2024).
Kuah Beulangong di Era Modern dan Pariwisata Kuliner
Di tengah perkembangan zaman, Kuah Beulangong tetap eksis dan bahkan semakin dikenal sebagai ikon kuliner Aceh. Beberapa komunitas budaya dan diaspora Aceh di berbagai daerah turut memperkenalkan hidangan ini melalui acara komunitas dan festival kuliner.
Tradisi memasak Kuah Beulangong juga dilakukan oleh komunitas Aceh di luar daerah sebagai cara mempertahankan identitas budaya sekaligus mempererat hubungan sesama perantau (ANTARA News, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu menjadi media pelestarian budaya yang relevan di era modern.
Kuah Beulangong bukan hanya sekadar hidangan tradisional, tetapi juga simbol nilai kebersamaan, gotong royong, dan identitas masyarakat Aceh. Tradisi memasak bersama yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan makanan ini memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar sajian kuliner.
Untuk mengetahui lebih banyak tradisi unik dan budaya Nusantara lainnya, jangan lewatkan artikel menarik lain di Negeri Kami. Temukan berbagai berita budaya, kuliner tradisional, serta cerita inspiratif yang disajikan secara informatif dan mendalam hanya di Negeri Kami.
Referensi

