Tumbilotohe Gorontalo merupakan tradisi budaya khas masyarakat Provinsi Gorontalo yang dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadan menjelang Idul Fitri. Tradisi ini identik dengan pemasangan ribuan lampu di depan rumah, jalan, dan ruang publik sebagai simbol kegembiraan serta kebersamaan menyambut hari kemenangan (ANTARA News, 2024).
Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut kini dikemas dalam konsep Green Tumbilotohe, sebuah festival budaya yang memadukan pelestarian adat dengan semangat ramah lingkungan. Inovasi ini menjadikan Tumbilotohe tidak hanya relevan secara budaya, tetapi juga menarik sebagai agenda pariwisata daerah.
Asal Usul dan Makna Tumbilotohe Gorontalo
Tumbilotohe Gorontalo secara harfiah berarti “menyalakan lampu”. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Gorontalo sebagai penanda berakhirnya bulan suci Ramadan dan mendekatnya Hari Raya Idul Fitri. Lampu-lampu dinyalakan sebagai simbol penerang, harapan, serta doa agar kehidupan ke depan dipenuhi keberkahan (ANTARA News, 2024).
Pada masa lalu, lampu yang digunakan berasal dari botol kaca berisi minyak tanah dan sumbu. Kini, meskipun bentuk dan bahan lampu mengalami perkembangan, esensi tradisi tetap dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya Gorontalo.
Green Tumbilotohe: Festival Tradisi Berwawasan Lingkungan
Konsep dan Tujuan Green Tumbilotohe
Pemerintah Provinsi Gorontalo mengembangkan tradisi Tumbilotohe menjadi Green Tumbilotohe dengan tujuan menjaga kelestarian budaya sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Festival ini mendorong penggunaan bahan bakar lampu yang lebih ramah lingkungan, seperti minyak kelapa, serta pemanfaatan bahan daur ulang (Berita Gorontalo Provinsi, 2025).
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, Green Tumbilotohe juga dirancang untuk memperkuat sektor pariwisata daerah dan menarik kunjungan wisatawan domestik.
Kemeriahan dan Rangkaian Kegiatan Festival
Green Tumbilotohe digelar di beberapa titik strategis di Kota Gorontalo dan kabupaten sekitarnya. Festival ini dimeriahkan dengan pawai obor, pertunjukan seni budaya daerah, lomba kreasi lampu hias, serta pameran produk UMKM lokal yang melibatkan masyarakat secara langsung (Gorontalo Post, 2025).
Ribuan warga turut memadati lokasi festival untuk menyaksikan keindahan cahaya lampu yang menghiasi malam Ramadan, menjadikan Tumbilotohe sebagai salah satu perayaan budaya paling dinantikan di Gorontalo.
Peran Pemerintah dan Partisipasi Masyarakat
Keberhasilan pelaksanaan Green Tumbilotohe tidak terlepas dari peran aktif pemerintah daerah, tokoh adat, serta dukungan masyarakat. Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama aparat keamanan memastikan festival berjalan aman dan tertib, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas budaya mereka (Tribratanews Gorontalo, 2026).
Partisipasi masyarakat dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa Tumbilotohe bukan sekadar agenda seremonial, melainkan tradisi hidup yang terus diwariskan dan dijaga bersama.
Nilai Budaya dan Sosial dalam Tumbilotohe Gorontalo
Lebih dari sekadar festival cahaya, Tumbilotohe Gorontalo mengandung nilai sosial dan spiritual yang kuat. Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarwarga. Selain itu, kegiatan ini memperkuat rasa kebersamaan dan menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat (ANTARA News, 2024).
Nilai-nilai tersebut menjadikan Tumbilotohe sebagai warisan budaya yang penting untuk terus dilestarikan. Upaya pelestarian menjadi semakin relevan di tengah arus modernisasi.
Tumbilotohe Gorontalo yang kini dikemas dalam konsep Green Tumbilotohe menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan makna dasarnya. Perpaduan budaya, kreativitas, dan kepedulian lingkungan menjadikan festival ini semakin relevan dan menarik.
Temukan lebih banyak berita budaya dan tradisi unik lainnya dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Negeri Kami, sumber informasi terpercaya tentang kekayaan budaya nusantara.
Referensi

