Peusijuek Aceh adalah tradisi adat yang masih hidup kuat di Provinsi Aceh sebagai bentuk doa keselamatan dan berkah dalam berbagai fase kehidupan masyarakat setempat. Ritual ini melibatkan taburan air, beras, dan doa untuk menciptakan ketentraman batin serta kebersamaan komunitas.
Tradisi ini dilakukan dalam momen pribadi seperti pernikahan, kelahiran, keberangkatan haji, hingga acara resmi maupun penyambutan tamu kehormatan, menjadi simbol penghormatan dan persatuan sosial yang mendalam (Budaya Data Kemdikbud, 2020; Aceh Online, 2025).
Sejarah dan Filosofi Peusijuek Aceh
Asal Usul Ritual
Peusijuek Aceh berasal dari kata “sijuek” yang berarti mendinginkan atau menenangkan secara simbolis. Ritual ini memiliki fungsi spiritual untuk mendatangkan ketenangan, keberkahan, dan keselamatan. Prosesi ini juga dipandang sebagai wujud kearifan lokal yang menggabungkan nilai historis Aceh dan ajaran Islam (Budaya Data Kemdikbud, 2020; Al Rasyid & Ribawati, 2025).
Makna Filosofis dan Spiritualitas
Setiap langkah dalam prosesi Peusijuek memiliki filosofi mendalam, termasuk simbol pembersihan batin, doa keselamatan, dan persatuan komunitas. Air, beras, dan nasi ketan yang digunakan melambangkan kehidupan, kemakmuran, dan kebersamaan (Aceh Bisnis, 2025).
Prosesi Peusijuek Aceh
Persiapan dan Doa
Ritual diawali dengan menyiapkan air suci yang telah dibacakan doa. Tokoh adat atau ulama memimpin doa untuk keselamatan, kesehatan, dan keberkahan individu yang menjalani prosesi (Aceh.kemenag.go.id, 2024).
Siraman Air Suci dan Simbolisme
Proses inti adalah siraman air suci secara bergiliran oleh anggota keluarga dan tokoh adat. Setiap tetes air dipercaya membawa berkah dan melindungi dari marabahaya. Ritual ini menjadi simbol damai, persatuan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur (Aceh Online, 2025).
Fungsi Sosial dan Budaya
Ritual dalam Berbagai Momen
Peusijuek Aceh dilakukan pada berbagai momen penting: keberangkatan haji, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan penyambutan tamu penting, memperkuat ikatan sosial dan spiritual warga (Aceh.kemenag.go.id, 2024; Aceh Online, 2025).
Alat Mediasi Sosial
Selain doa keselamatan, Peusijuek berfungsi sebagai sarana mediasi sosial, menyelesaikan konflik kecil, serta mengajarkan toleransi dan harmoni antarwarga (Jurnal Ar-Raniry, 2025).
Tantangan dan Pelestarian Tradisi
Generasi muda terutama di kalangan urban cenderung kurang familiar dengan ritual adat ini. Meski demikian, Peusijuek tetap menjadi simbol identitas sosial dan budaya Aceh yang perlu dilestarikan (Jurnal Antropologi UNAND, 2025).
Peusijuek Aceh adalah tradisi yang mempererat hubungan sosial, menyampaikan doa, dan menjaga harmoni antar warga masyarakat. Ritual ini menegaskan bagaimana adat dan nilai keagamaan saling berpadu dalam kehidupan komunitas Aceh.
Untuk informasi budaya Indonesia lainnya, kunjungi Negeri Kami dan temukan berita menarik tentang warisan budaya Nusantara yang patut dijaga dan dipelajari.
Referensi:

