Tari Piso Surit: Tarian Batak Karo yang Berawal dari Sebuah Lagu

Tari Piso Surit: Tarian Batak Karo yang Berawal dari Sebuah Lagu

Last Updated: 31 January 2026, 06:00

Bagikan:

tari piso surit
Foto: Indonesia Kaya

Tari Piso Surit – Salah satu tarian tradisional khas Batak Karo yang lahir dari lagu rakyat dan cerita lisan masyarakatnya. Meski mengandung kata “piso” yang berarti pisau, tarian ini tidak berkaitan dengan senjata. Inspirasinya justru berasal dari kicauan burung kecil bernama pincala yang penuh makna simbolik.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kicauan burung tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam gerak tari yang lembut dan penuh penghayatan. Di luar tor-tor yang telah lebih dahulu dikenal luas, tari piso surit berkembang sebagai ungkapan kisah cinta, penantian, dan kesedihan dalam budaya Karo.

Asal-usul Tari Piso Surit dari Sebuah Lagu

Tari piso surit merupakan pengembangan dari lagu berjudul sama karya Djaga Sembiring Depari, seorang komponis berdarah Batak Karo, yang diciptakan sekitar tahun 1960. Lagu tersebut terinspirasi dari kicauan burung pincala yang terdengar berulang dan menyerupai bunyi “piso surit”.

Dalam budaya Karo, burung pincala dimaknai sebagai simbol penantian dan kesetiaan. Makna ini kemudian menjadi landasan cerita dalam lagu, yang mengisahkan asmara antara pemuda dan pemudi Karo pada masa penjajahan. Sang pemudi digambarkan menunggu kekasihnya yang pergi tanpa kabar, sementara kicauan burung yang terdengar sendu seolah mewakili perasaan rindu dan kesepiannya.

Lagu tersebut berkembang luas dan kerap diperdengarkan dalam berbagai acara adat masyarakat Karo. Dari sinilah muncul gagasan untuk menerjemahkan kisah dan emosi dalam lirik ke dalam bentuk gerak tari, sehingga pesan tentang penantian, kesedihan, dan keikhlasan dapat disampaikan secara visual.

Perkembangan Tari Piso Surit sebagai Tarian Tradisional

Seiring semakin seringnya lagu Piso Surit diperdengarkan dalam kegiatan adat, masyarakat Karo mulai merangkai gerak tari yang mengikuti irama dan suasana lagunya. Dari sinilah tarian tersebut berkembang dengan karakter gerak yang lembut dan gemulai, selaras dengan nuansa sendu dalam liriknya.

Dalam perkembangannya, tarian ini disajikan secara berkelompok dan umumnya dibawakan berpasangan antara penari laki-laki dan perempuan. Meski ada pertunjukan yang hanya menampilkan penari perempuan, format berpasangan lebih sering digunakan karena sejalan dengan tema kisah cinta yang melatarbelakanginya.

Gerakan dalam Tari Piso Surit

Gerakan tarian terinspirasi dari keanggunan burung pincala. Penari melakukan langkah-langkah kecil dengan kaki menjinjit, berputar perlahan, melentikkan jari, serta bergerak naik-turun mengikuti irama lagu. Gerakan ini mencerminkan kelembutan sekaligus kegundahan perasaan yang diceritakan dalam lagu.

Dalam satu kelompok, biasanya terdapat sekitar lima pasang penari yang bergerak serempak dan saling berhadapan. Koordinasi menjadi unsur penting untuk menciptakan harmoni visual, dengan pola gerak berseberangan, berputar, atau berdiri bersebelahan secara bergantian.

Busana dan Iringan Musik

Para penari mengenakan busana adat Karo lengkap, yang umumnya didominasi warna merah dan emas. Mereka juga membawa kain uis khas Karo sebagai bagian dari properti tari. Busana ini memperkuat identitas budaya sekaligus menambah keindahan visual pertunjukan.

Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Karo seperti gong, kecapi, dan gendang. Irama musiknya bertempo lambat, menyesuaikan dengan karakter gerakan tari yang lemah gemulai dan penuh penghayatan.

Penutup

Tari piso surit menjadi bukti bahwa sebuah lagu rakyat dapat berkembang menjadi karya seni tari yang kaya makna dan nilai budaya. Berangkat dari kisah sederhana tentang penantian, tarian ini kini menjadi bagian penting dari warisan budaya Batak Karo yang terus dijaga keberlangsungannya.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Sumatera Utara dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Sumatera Utara

Tarian

-

Budaya

Budaya Lainnya