Tari Lukah Gilo – Seni pertunjukan rakyat yang tumbuh dari tradisi masyarakat Sumatra, khususnya di Jambi dan daerah sekitarnya. Pertunjukan ini dikenal karena menghadirkan unsur magis yang kuat, ditandai dengan pergerakan lukah yang seolah hidup dan sulit dikendalikan.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, berangkat dari tradisi nelayan menangkap ikan, lukah gilo kemudian berkembang menjadi permainan rakyat, sarana ritual, hingga inspirasi penciptaan karya tari. Hingga kini, kesenian ini tetap hidup sebagai warisan budaya yang mencerminkan hubungan manusia, alam, dan dunia gaib.
Asal-usul Lukah Gilo
Lukah atau bubu merupakan alat tradisional nelayan untuk menangkap ikan, berbentuk kerucut panjang dan terbuat dari bambu atau rotan. Dalam praktik tradisional, lukah dimantrai agar ikan menjadi gilo atau mabuk sehingga masuk ke dalam lukah. Dari sinilah istilah lukah gilo berasal.
Permainan rakyat lukah gilo berkembang di berbagai wilayah Sumatra seperti Jambi, Riau, Sijunjung, hingga pesisir timur Sumatra Utara. Tradisi ini tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan animisme dan dinamisme yang hidup di tengah masyarakat. Menurut Desfiarni, tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi sarana guna-guna dan pengobatan sebelum akhirnya diangkat sebagai hiburan rakyat.
Proses Pertunjukan Lukah Gilo
Sebelum pertunjukan dimulai, lukah didandani menyerupai manusia. Sebatang kayu panjang dimasukkan ke dalam lukah untuk membentuk tangan, sementara bagian ujungnya yang lancip ditancapkan labu hingga menyerupai kepala. Dua orang peladen duduk berhadapan sambil memegang bagian bawah lukah.
Seorang dukun atau pawang kemudian membacakan mantra. Saat mantra mulai dilantunkan, lukah perlahan digoyang dan semakin lama bergerak kian cepat ke kanan dan ke kiri, bahkan berputar-putar. Pada titik tertentu, kedua peladen kewalahan, berdiri, dan akhirnya melepaskan pegangan. Ketika lukah terlepas, daya magisnya pun sirna. Inilah puncak permainan rakyat lukah gilo.
Pertunjukan biasanya dilaksanakan pada malam hari karena malam dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk memanggil roh. Pawang disebut kulipah dalam bahasa Minang atau bomoh dalam bahasa Melayu. Lukah yang bergerak liar setelah dimantrai sering disamakan dengan permainan jailangkung karena sama-sama melibatkan medium dan kendali supranatural.
Makna Kosmologis dalam Lukah Gilo
Secara kosmologi, lukah gilo mencerminkan pandangan masyarakat tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam dan alam gaib. Alam dipandang sebagai penyedia kebutuhan hidup, sehingga merusaknya berarti merusak keseimbangan kehidupan manusia dan makhluk tak kasatmata.
Wan Syaifuddin menyebut bahwa pemanggilan roh melalui mantra dalam permainan rakyat ini bertujuan untuk mengambil hati dan mendamaikan para roh. Dengan adanya ritual lukah gilo, roh-roh dianggap telah dihargai keberadaannya sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.
Dari Permainan Rakyat ke Seni Tari Lukah Gilo
Lukah gilo kerap dimainkan dalam berbagai upacara adat, seperti pengangkatan penghulu, perhelatan nagari, dan upacara perkawinan. Tradisi ini kemudian menginspirasi lahirnya sebuah garapan seni yang dikenal sebagai tari lukah gilo.
Pada awalnya, lukah gilo tidak disertai unsur seni lain seperti musik atau vokal. Namun dalam perkembangannya, musik pengiring, busana, dan koreografi mulai digunakan. Bahkan, lukah tidak hanya dimainkan, tetapi juga ditarikan, sehingga lahirlah bentuk seni pertunjukan tari lukah gilo.
Koreografi, Kostum, dan Properti
Tari lukah gilo tidak menjiplak ritual lukah gilo secara utuh, melainkan mengangkat ide dasarnya. Tarian ini umumnya dibawakan oleh penari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang menyesuaikan ukuran panggung. Pada bagian awal yang menampilkan unsur trance, biasanya hanya melibatkan penari laki-laki karena membutuhkan tenaga besar.
Penari mengenakan pakaian tradisional atau kostum bermotif bambu dengan dominasi warna kuning, hitam, dan cokelat. Rias wajah cenderung natural namun tajam. Properti utama berupa boneka lukah gilo menjadi pusat perhatian karena tampak seolah bernyawa. Gerak tari didominasi gerak teatrikal, ayunan tangan, hentakan kaki, dan tubuh yang mengikuti karakter lukah yang tidak terkendali.
Pelestarian Tari Lukah Gilo
Sebagai seni kreasi baru, tari lukah gilo terus dikembangkan oleh penggiat seni dan sanggar tari. Penggarapan disesuaikan dengan ide koreografer, baik dari segi musik, kostum, maupun gerak tari. Upaya ini dilakukan agar kesenian tradisi lukah gilo tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.
Penutup
Tari lukah gilo menunjukkan bagaimana sebuah tradisi rakyat dapat berkembang menjadi seni pertunjukan yang kaya makna. Unsur magis, simbol kosmologis, dan nilai budaya berpadu dalam satu pertunjukan yang unik dan berakar kuat pada kehidupan masyarakat.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jambi dan Indonesia.



