Rampag Parebut Seeng: Kesenian yang Melatih Pengendalian Diri

Rampag Parebut Seeng: Kesenian yang Melatih Pengendalian Diri

Last Updated: 23 January 2026, 06:00

Bagikan:

rampag parebut seeng
Foto: Indonesia Kaya

Rampag Parebut Seeng – Kesenian tradisional masyarakat Sunda yang mengajarkan pengendalian diri melalui sebuah pertunjukan yang penuh makna. Kesenian ini telah ada sejak zaman Kasepuhan Sunda dan hingga kini masih dipentaskan dalam berbagai acara adat sebagai bagian dari tradisi yang terus dijaga.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kesenian tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nilai kehidupan. Aturan permainan, gerak silat, serta simbol yang digunakan dalam pertunjukan ini merepresentasikan filosofi kesabaran, keseimbangan, dan makna kemenangan sebagai keberhasilan menaklukkan diri sendiri.

Aturan Permainan Rampag Parebut Seeng

Rampag parebut seeng biasanya dimainkan oleh laki-laki, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para peserta mengenakan pakaian hitam khas tradisional Sunda yang dikenal sebagai baju kampret, lengkap dengan penutup kepala berupa iket atau totopong. Kesenian ini kerap dipentaskan dalam berbagai acara adat seperti pernikahan adat, khitanan, dan Seren Taun.

Aturan permainannya tergolong sederhana. Seorang peserta membawa seeng atau tungku nasi tradisional, sementara peserta lainnya berusaha menyentuh tungku tersebut menggunakan gerakan silat. Jika seeng berhasil disentuh, maka tungku tersebut harus berpindah tangan. Namun, apabila peserta yang berusaha merebut seeng terjatuh, maka ia dinyatakan gagal dan akan digantikan oleh peserta lain. Permainan terus berlangsung hingga tersisa satu orang sebagai pemenang.

Gerak Silat Cimande dalam Rampag Parebut Seeng

Menurut Abah Ukat, salah satu kokolot Kampung Budaya Sindang Barang, gerak silat yang digunakan dalam rampag parebut seeng adalah silat Cimande. Silat ini memiliki ciri khas berupa pola kuda-kuda yang menekankan pada penjagaan jarak dengan lawan.

Gerak silat Cimande mengajarkan kesabaran dan keberanian. Seorang pemain dituntut untuk mampu menahan diri, tidak bertindak gegabah, serta menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Nilai ini sejalan dengan pesan utama rampag parebut seeng, yaitu mengendalikan nafsu hewani yang ada dalam diri manusia.

Pijat Cimande sebagai Penutup Pertunjukan

Keunikannya juga terlihat setelah pertunjukan berakhir. Seorang kokolot akan melakukan pijat Cimande kepada peserta yang mengalami cedera selama permainan. Pijat ini dilakukan dengan cara mengusapkan air pada bagian tubuh yang cedera, disertai dengan pembacaan mantra-mantra tertentu.

Meski dari sisi medis sulit dijelaskan, para peserta yang menerima pijat Cimande mengaku merasakan kondisi tubuh yang lebih baik. Tradisi ini menunjukkan kuatnya kepercayaan masyarakat Sunda terhadap warisan leluhur yang memadukan seni, spiritualitas, dan penyembuhan tradisional.

Filosofi Seeng sebagai Simbol Kehidupan

Rampag parebut seeng lebih dari sekadar pertunjukan seni. Seeng atau tungku nasi merupakan simbol kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Sunda. Namun, tungku yang diperebutkan tidak dimaknai sebagai perebutan materi semata.

Makna utama dari parebut seeng adalah pengendalian diri. Kemenangan sejati dalam kesenian ini bukanlah ketika seseorang berhasil mengalahkan orang lain, melainkan saat ia mampu menguasai hawa nafsu dalam dirinya sendiri. Nilai inilah yang menjadikan tradisi ini penuh filosofi kehidupan.

Penutup

Rampag parebut seeng memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional Sunda menyampaikan pesan moral melalui gerak, aturan, dan simbol yang sederhana namun bermakna. Nilai pengendalian diri yang diajarkan tetap relevan di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jawa Barat dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Barat

Tarian

Kampung Budaya Sindang Barang

Budaya

Budaya Lainnya