Kebo-keboan: Ritual Unik Penolak Hama di Banyuwangi

Kebo-keboan: Ritual Unik Penolak Hama di Banyuwangi

Last Updated: 19 January 2026, 06:00

Bagikan:

kebo-keboan
Foto: Indonesia Kaya

Kebo-keboan – Tradisi khas Banyuwangi yang hadir dalam bentuk pertunjukan seni peran dengan muatan spiritual yang kuat. Ritual ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen, sekaligus cerminan upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kepercayaan spiritual.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kebo-keboan menempatkan sosok kerbau tiruan sebagai simbol utama dalam pertunjukan. Para pelaku ritual berdandan dan bertingkah menyerupai kerbau, menghadirkan gambaran eratnya hubungan tradisi ini dengan nilai-nilai pertanian dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat pendukungnya.

Asal-usul Tradisi Kebo-keboan

Kebo-keboan telah diwariskan secara turun-temurun dan konon sudah ada sejak abad ke-18 Masehi. Tradisi ini berakar dari masyarakat Suku Osing di Desa Alasmalang, Banyuwangi. Pada masa itu, terjadi wabah penyakit yang diyakini disebabkan oleh kekuatan supranatural. Wabah tersebut menyerang warga dan juga tanaman pertanian dalam wujud hama.

Akibatnya, para petani mengalami gagal panen sehingga beras menjadi langka. Kondisi ini menyebabkan semakin banyak warga jatuh sakit dan meninggal dunia. Sesepuh desa bernama Mbah Karti kemudian melakukan semedi untuk mendapatkan petunjuk. Dari hasil semedinya, Mbah Karti mengarahkan warga menggelar syukuran akbar dengan catatan para petani berperan menjadi kerbau untuk mengagungkan Dewi Sri, simbol kemakmuran dan keselamatan. Setelah syukuran dilaksanakan, wabah dan hama tanaman diyakini segera menghilang.

Di Desa Aliyan, tokoh yang mendapat wangsit adalah Mbah Wongso Kenongo bersama anaknya, Joko Pekik. Setelah bermeditasi, Joko Pekik bertingkah laku seperti kerbau dengan berguling-guling di sawah. Tak lama berselang, hama dan wabah menghilang, dan hasil panen kembali melimpah.

Sejak saat itu, kondisi tanaman dan warga berangsur membaik. Tradisi kebo-keboan kemudian dilaksanakan satu kali setiap tahun, tepatnya pada hari Minggu pertama bulan Muharam atau Suro menurut penanggalan Jawa, sekitar tanggal 1 hingga 10, dengan alur pelaksanaan yang berbeda di setiap desa.

Mengapa Kerbau dan Bukan Sapi?

Kerbau dipilih karena jasanya yang besar dalam membantu petani dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Tenaga kerbau lebih besar dibandingkan sapi, sehingga lebih banyak digunakan untuk membantu membajak sawah.

Tanpa bantuan kerbau, petani akan kesulitan mengolah lahan pertanian. Oleh karena itu, gelaran kebo-keboan juga menjadi ungkapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada kerbau yang telah berjasa dalam menopang kehidupan agraris mereka.

Kebo-keboan di Berbagai Desa

Saat ini, hanya dua desa di Banyuwangi yang masih melaksanakan tradisi kebo-keboan, yaitu Desa Alasmalang dan Desa Aliyan. Tujuan pelaksanaannya tetap sama, yakni mengungkapkan rasa syukur dan menghalau hama, namun tahapan persiapannya berbeda di antara kedua desa tersebut.

Di Desa Alasmalang, tahapan kebo-keboan meliputi pemilihan pemeran oleh ketua adat, pelaksanaan selamatan dengan 12 tumpeng yang kemudian disantap bersama, arak-arakan manusia kerbau mengelilingi empat penjuru desa yang dipimpin tetua adat, serta pemberian benih padi kepada petani untuk ditanam.

Sementara itu, di Desa Aliyan, pemeran kebo-keboan dipilih sesuai dengan pilihan arwah leluhur, yang ditandai dengan kesurupan sehari sebelum upacara. Persiapan lainnya meliputi pemasangan umbul-umbul dan gapura dari hasil pertanian, pembuatan kubangan lumpur, penyusunan tumpukan hasil panen sebagai simbol syukur, arak-arakan manusia kerbau ke seluruh penjuru desa, serta prosesi ngurit atau pemberian benih padi kepada petani.

Pelaksanaan Kebo-keboan

Menjelang pelaksanaan kebo-keboan, warga desa biasanya mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan. Sehari sebelum upacara, para perempuan berkumpul menyiapkan sajen berupa tumpeng, kinang ayu, ingkung ayam, dan air kendi yang kemudian diletakkan di setiap sudut perempatan jalan.

Perlengkapan upacara seperti pacul, beras, bibit padi, palawija, dan tebu disiapkan oleh para pemuda. Para petani juga menyiapkan bendungan untuk mengairi sawah yang akan ditanami saat upacara kebo-keboan berlangsung.

Pada hari pelaksanaan, doa bersama dilakukan pada pagi hari sebelum acara dimulai. Para keboan tampil dengan tubuh hitam berlumur oli, bertanduk, berambut palsu, dan sebagian membawa bajak. Mereka diiringi seorang perempuan yang berperan sebagai Dewi Sri dan diarak mengelilingi desa. Karena banyak keboan mengalami kesurupan, mereka bergerak ke sana kemari, bahkan terkadang menyeruduk orang.

Saat bertemu dengan kubangan lumpur, keboan akan berguling-guling dan mencipratkan lumpur ke segala arah dalam waktu cukup lama tanpa merasa kelelahan. Jika ada keboan yang tumbang, mereka akan disadarkan oleh keluarga dengan guyuran air lalu dibawa pulang.

Di tengah prosesi, pemeran Dewi Sri membagikan bibit padi kepada para petani yang berebut mengambilnya. Bibit tersebut diyakini membawa berkah dan akan tumbuh subur serta menghasilkan panen yang melimpah. Setelah upacara selesai, warga kembali ke rumah masing-masing sambil membawa bibit padi. Pada malam harinya, digelar pertunjukan wayang kulit yang mengisahkan Dewi Sri sebagai hiburan bagi warga.

Pentingnya Pelaksanaan Kebo-keboan

Kebo-keboan memiliki peran penting dalam mempertahankan warisan budaya Banyuwangi. Tradisi ini menjadi simbol kekuatan, penghormatan kepada roh leluhur, kepercayaan terhadap dunia spiritual, serta rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Selain memperkuat identitas budaya masyarakat Banyuwangi, kebo-keboan juga menarik minat wisatawan yang ingin mengenal dan mengalami secara langsung budaya unik daerah tersebut. Melalui tradisi ini, masyarakat Banyuwangi tidak hanya menjaga jati diri budaya, tetapi juga melestarikan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Penutup

Tradisi kebo-keboan menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Banyuwangi tumbuh dari hubungan erat antara manusia, alam, dan kepercayaan spiritual. Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai upaya menolak hama dan wabah, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur serta penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan.

Simak berita menarik lainnya seputar tradisi, ritual sakral, dan budaya Nusantara di Negeri Kami. Mari bersama melestarikan warisan leluhur, memahami makna setiap adat, serta mengenal ritual kebo-keboan yang hidup dan terus diwariskan lintas generasi.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Timur

Acara Sakral

Desa Alasmalang dan Desa Aliyan

Budaya

Budaya Lainnya