Ngiling Bumbu: Tradisi 700 Tahun Rantau Panjang yang Bertahan

Ngiling Bumbu: Tradisi 700 Tahun Rantau Panjang yang Bertahan

Last Updated: 19 January 2026, 06:00

Bagikan:

ngiling bumbu
Foto: Indonesia Kaya

Ngiling Bumbu – Tradisi turun-temurun yang bertahan lebih dari 700 tahun di Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Tradisi ini menjadi bagian identitas budaya masyarakat setempat sekaligus sarana mempererat kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, ngiling bumbu digelar dalam momen penting seperti persiapan turun ke ladang, panen raya, kenduri pernikahan, hingga pembangunan rumah baru. Prosesi ini tidak hanya menyiapkan bahan masakan, tetapi juga menghadirkan suasana penuh canda tawa, mempererat ikatan masyarakat, dan menjadikan tradisi sebagai sarana pendidikan informal sekaligus hiburan yang hangat.

Proses Ngiling Bumbu

Para gadis sibuk menumbuk rempah-rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan serai, sementara yang lain memarut kelapa untuk diolah menjadi santan. Semua bahan bumbu dikumpulkan dari ladang-ladang subur di sepanjang Sungai Lamuih, yang airnya mengalir hingga ke Sungai Tabir dan bermuara ke Sungai Batanghari. Aktivitas ini mencerminkan harmoni antara manusia dan alam yang menjadi bagian penting dari tradisi.

Namun, ngiling bumbu pada masa lalu bukan hanya soal menyiapkan bahan masakan. Tradisi ini juga dikenal dengan istilah ba usik sirih bergurau pinang, yang menggambarkan pertemuan jodoh antara pemuda dan pemudi. Dengan pantun-pantun jenaka yang dilantunkan, pemuda memulai perkenalan mereka, menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban di tengah prosesi gotong royong tersebut:

“Batang salih di tepi rimbo
Rebah sebatang ke dalam payo
Kalun bulih abong betanyo
Kak baju abang siapo namo?”

Pantun ini menjadi pembuka interaksi, diikuti sesi balas-membalas pantun yang diselingi perkenalan nama. Para gadis pun menyambut pantun tersebut dengan gaya khas mereka:

“Eee, Bong eh
Dari mano hendak ke mano
Dari Jepun ke Bando Cino
Dado salah abong betanyo
Adik nak malang Miah namonyo.”

Selesai berbalas pantun, belut hasil tangkapan para pemuda diserahkan kepada para gadis untuk dimasak. Setelah para gadis selesai menggiling bumbu, tradisi berlanjut dengan ngukuih, memasak gulai belut dengan daun pakis di atas tungku kayu. Nasi dari padi ladang yang baru dipanen disiapkan sebagai pendamping.

Proses penyajian dilakukan di beberapa rumah sepanjang kompleks rumah tuo. Daging belut dimasak dengan rempah, cabai, dan santan gurih selama sekitar satu setengah jam, menghasilkan cita rasa kaya dan lezat.

Simbol Belut dalam Ngiling Bumbu

Belut dalam tradisi ini bukan sekadar bahan makanan, tetapi simbol ketahanan dan kegigihan. Memancing belut menjadi perlombaan tradisional yang menguji keterampilan, kegagahan, dan mempererat ikatan sosial di antara para pemuda.

Kegiatan ini juga mengajarkan nilai kerja sama tim dan keterampilan, bagian dari kehidupan agraris masyarakat Rantau Panjang dan Tabir. Tradisi ini mengajarkan generasi muda tentang ketahanan pangan dan kearifan lokal, sekaligus cara memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.

Namun, modernisasi mengubah sebagian praktik ngiling bumbu. Kini kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh para ibu, sementara perkenalan muda-mudi sering berlangsung lewat ponsel.

“Sekarang, ngiling bumbu hanya jadi bagian dari beselang untuk memasak, dan itu dilakukan induk-induk. Kalau muda-mudi, perkenalan sekarang di HP bae,” kata Ramuini (19), pelajar SMAN 2 Merangin.

Tantangan Pelestarian Tradisi

Ngiling bumbu merupakan bagian tak terpisahkan dari beselang, tradisi gotong royong khas masyarakat Rantau Panjang. Setiap hentakan batu tumbuk mengandung nilai yang memperkuat solidaritas dan mempererat hubungan antarwarga.

Di masa lalu, ngiling bumbu juga berfungsi sebagai ajang pendidikan informal bagi generasi muda. Melalui kegiatan ini, mereka belajar memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, menjaga ketahanan pangan, dan menghayati pentingnya gotong royong.

Meskipun menghadapi modernisasi, masyarakat Rantau Panjang terus berupaya mempertahankan ngiling bumbu. Namun tradisi kini menghadapi tantangan besar: penambangan emas ilegal menyempitkan aliran Sungai Tabir, merusak sawah, dan mengancam ketahanan pangan. Sawah yang dulunya subur kini dibiarkan kosong, dan belut semakin sulit ditemukan, sehingga perlombaan menangkap belut jarang dilakukan.

“Kalau sawah dak dikerjakan lagi, tradisi mancing belut pun hilang. Makanan khas kami juga bisa lenyap,” keluh Sholihin, pemuda setempat.

Masyarakat Desa Rantau Panjang tidak menyerah. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan ngiling bumbu sebagai bagian identitas budaya mereka. Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, menekankan pentingnya pelestarian tradisi ini:

“Ngiling bumbu adalah cerminan kearifan lokal yang menghubungkan kita dengan masa lalu dan harus terus dijaga di masa depan.”

Penutup

Ngiling bumbu bukan sekadar tradisi memasak, tetapi simbol budaya yang mengajarkan solidaritas, ketahanan, dan harmoni antara manusia dengan alam. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas masyarakat Rantau Panjang.

Simak berita menarik lainnya seputar tradisi, ritual, dan budaya Nusantara di Negeri Kami. Mari bersama-sama melestarikan warisan leluhur, memahami makna setiap adat, dan merasakan kekayaan budaya lokal seperti tradisi ngiling bumbu yang hidup dari generasi ke generasi.

Search

Video

Budaya Detail

Jambi

Acara Sakral

Kabupaten Merangin / Kecamatan Tabir / Desa Rantau Panjang

Budaya

Budaya Lainnya