Tari Lalayon atau Tari Lala: Cinta Antar Dua Insan Manusia

Tari Lalayon atau Tari Lala: Cinta Antar Dua Insan Manusia

Last Updated: 14 January 2026, 06:00

Bagikan:

tari lalayon
Foto: Indonesia Kaya

Tari Lalayon atau Tari Lala – Tarian tradisional yang berasal dari Pulau Halmahera, tepatnya di wilayah Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Tarian ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pesisir serta menjadi bagian penting dari kehidupan adat dan sosial setempat.

Berdasarkan catatan dari Wikipedia, Tari Lala dalam perkembangannya dikenal sebagai tarian khas anak muda Halmahera Tengah dan hingga kini difungsikan sebagai tarian kehormatan. Tarian ini lazim ditampilkan dalam acara pernikahan, penyambutan tamu, serta berbagai upacara adat dan tradisi masyarakat.

Asal-usul Tari Lalayon

Nama Lala berasal dari kata “La ila” yang diambil dari ucapan zikir “La ilaha illallah”. Unsur religius ini menjadi dasar penamaan sekaligus menandai nilai spiritual yang melekat dalam tarian tersebut. Adapun gerakan Tari Lala bersumber dari sebuah hikayat yang berkembang di masyarakat Weda, Patani, Gebe, dan Maba. Sejak awal kemunculannya, tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media ekspresi nilai keagamaan, kebersamaan, dan rasa syukur masyarakat Halmahera.

Sejarah Tari Lalayon

Kisah Tari Lalayon berawal dari kehidupan sepasang suami istri yang hidup rukun di pesisir pantai bagian tengah Pulau Halmahera, jauh dari perkampungan. Suatu hari, sang suami jatuh sakit dan meninggal dunia, meninggalkan istrinya dalam duka mendalam.

Melihat kondisi tersebut, beberapa pasang muda-mudi desa mengajak perempuan itu bertamasya ke pantai berpasir putih di dekat desa mereka. Di lokasi tersebut, para pemuda mengambil daun kelapa sebagai alas makan yang dalam bahasa lokal disebut “Lala”. Saat makan bersama, sang perempuan memilih diam sambil memperhatikan sepasang burung camar atau burung Kum-kum yang tampak menari di tepi pantai.

Usai makan, beberapa pemuda berdiri dan mulai menari mengelilingi daun kelapa tersebut. Para perempuan kemudian ikut bergabung, termasuk perempuan yang sebelumnya berduka. Gerakan tarinya yang meniru burung camar lalu diikuti oleh peserta lain. Daun “Lala” pun digunakan sebagai sapu tangan dalam tarian dan menjadi ciri khas yang terus dipertahankan hingga kini.

Filosofi Tari Lalayon

Tari Lalayon muncul bersamaan dengan berdirinya negeri Gamrange atau Tiga Negeri Bersaudara, yakni Maba, Patani, dan Weda. Tarian ini merupakan tarian khas masyarakat Weda yang mengandung unsur religius serta filosofi mendalam.

Secara filosofis, Tari Lala menyampaikan pesan romantis tentang cinta antar dua insan manusia. Oleh karena itu, tarian ini umumnya dibawakan secara berpasang-pasangan dengan gerakan lembut dan indah di setiap babaknya. Iringan lagu berirama Melayu turut membangun suasana romantis yang mendukung pesan yang ingin disampaikan.

Gerakan saling pandang antara penari pria dan wanita, senyum penerimaan, hingga dialog tubuh yang harmonis menggambarkan perasaan kasih, perhatian, dan kehangatan. Makna cinta dalam Tari Lalayon tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menyatu dengan nilai adat dan kehidupan sosial masyarakat.

Makna Persatuan dan Rasa Syukur

Selain bermakna hubungan kasih antara muda-mudi, Tari Lala juga mengandung makna persatuan masyarakat Gamrange. Tarian ini menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan antara masyarakat Weda, Patani, dan Maba.

Makna lainnya adalah perjuangan dan rasa syukur. Tari Lala bersifat religius dan dimaknai sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah alam, kehidupan, serta pencapaian yang diraih manusia dalam kesehariannya.

Penari, Iringan, dan Ciri Khas Tari Lalayon

Tari Lala biasanya diperagakan oleh delapan penari yang terdiri dari empat laki-laki dan empat perempuan. Tarian ini diiringi alat musik tradisional seperti Tifa dan Juk, sejenis alat musik gesek. Selain musik, syair-syair bernuansa religius, cinta, kegembiraan, kesedihan, dan harapan turut mengiringi pertunjukan. Ciri khas Tari Lalayon terletak pada penggunaan daun kelapa “Lala” sebagai properti, gerakan yang meniru burung camar, serta pola tarian berpasangan yang menggambarkan kisah cinta dan kebersamaan.

Penutup

Tari Lalayon atau Tari Lala merupakan warisan budaya Halmahera yang merekam kisah cinta dua insan manusia sekaligus memuat nilai persatuan, religius, dan rasa syukur. Tarian ini tumbuh dari kisah rakyat dan terus hidup dalam praktik adat masyarakat Halmahera Timur dan Halmahera Tengah.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Maluku Utara dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Maluku Utara

Tarian

Kabupaten Halmahera Timur dan Kabupaten Halmahera Tengah

Budaya

Budaya Lainnya