Tari Bopureh – Tari kreasi yang menceritakan kisah cinta pemuda Dayak Jangkang dengan gadis Kanayan yang terhalang adat. Tarian ini lahir dari puisi tentang kerisauan hati seorang pria karena cintanya tidak bisa bersatu akibat peraturan adat yang membatasi pernikahan antar subetnis Suku Dayak di Kalimantan Barat. Tari Bopureh menjadi ekspresi seni yang memadukan cerita klasik dengan gerak indah dan simbolisme budaya Dayak.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, tarian ini tidak hanya menampilkan kisah kasih tak sampai, tetapi juga memperlihatkan kekayaan estetika tari tradisional Dayak. Kostum dan properti, seperti mahkota burung tingang yang dikenakan penari pria, memperkuat identitas budaya. Tarian ini juga sekaligus menjadi sarana pelestarian adat dan seni pertunjukan.
Sejarah dan Filosofi Tari Bopureh
Dalam bahasa Jangkang, “bopureh” berarti silsilah, simbol bagaimana adat memisahkan tali kasih yang sudah terikat antara dua sejoli. Tari Bopureh lahir sebagai wujud ekspresi dari konflik emosional akibat peraturan adat yang membatasi kebebasan cinta, sekaligus menjadi prolog terciptanya tari kreasi yang menggabungkan tradisi dan inovasi.
Koreografi dan Kostum
Tari Bopureh dipentaskan oleh sepuluh penari, delapan sebagai pendukung dan dua sebagai pasangan kekasih. Gerak tarian didominasi liukan tangan dengan perubahan formasi yang dinamis. Di bagian tengah pertunjukan, penari perempuan membentuk formasi melingkar dengan penari pria di pusat, sementara kain warna-warni yang dibentangkan melambangkan beragamnya subetnis Suku Dayak yang menjadi penghalang cinta pemuda Jangkang dengan gadis Kanayan.
Kostum yang digunakan merupakan pakaian adat Dayak Kalimantan Barat yang dimodifikasi agar lebih fleksibel saat bergerak. Properti seperti mahkota burung tingang menegaskan identitas budaya sekaligus menambah keindahan visual pertunjukan.
Makna Tari Bopureh
Tarian ini mengajarkan pentingnya memahami adat dan silsilah dalam masyarakat Dayak, sekaligus menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi media edukasi dan pelestarian budaya. Penonton tidak hanya menikmati keindahan gerak tari, tetapi juga diajak merenungkan nilai-nilai tradisi, keberagaman, dan cinta yang terhalang.
Penutup
Tari Bopureh adalah bukti nyata bagaimana kisah cinta dan adat bisa disampaikan melalui gerak tari yang memukau. Pertunjukan ini memadukan cerita klasik dengan keindahan estetika, mengajak generasi muda untuk menghargai dan melestarikan budaya Dayak.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Kalimantan Barat dan Indonesia.



