Payung Api – Simbol pelindung dan penerang dalam budaya Melayu. Festival yang digelar di Jambi ini tidak sekadar menampilkan seni, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal yang terkadang terlupakan, sambil membuka ruang bagi generasi muda untuk menyelami tradisi dengan cara mereka sendiri. Acara ini memadukan seni, filosofi, dan kolaborasi masyarakat setempat, menjadikan budaya Melayu tetap hidup dan terasa relevan, bahkan di tengah arus modernitas.
Berdasarkan Indonesia Kaya, festival ini menjadi wadah regenerasi budaya, di mana elemen-elemen tradisional seperti malam tari inai, besya’ir, dan tari payung api dikemas ulang oleh koreografer Fandi Ari dengan sentuhan modern, tanpa menghilangkan makna filosofisnya. Lebih dari sekadar pertunjukan, festival ini menegaskan pentingnya gotong royong dan kebersamaan, sambil membiarkan tradisi lama menemukan bentuknya yang baru di era kontemporer.
Makna Mendalam di Balik Payung Api
Festival Payung Api menyampaikan pesan tentang kehidupan, kebersamaan, dan pelestarian budaya. Simbol payung berhiaskan lilin ini digunakan dalam berbagai upacara adat, termasuk pernikahan, sebagai penerang sekaligus pelindung. Lilin pada payung melambangkan cahaya kehidupan yang harus dijaga agar tetap menyala.
Proses pembuatannya menekankan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Melayu. Tradisi ini dihidupkan kembali melalui festival sebagai bagian dari identitas budaya yang terus berkembang. Semangat kebersamaan juga tercermin dalam kolaborasi seniman, pemuda, dan masyarakat setempat.
Kolaborasi dan Partisipasi Pemuda
Festival ini melibatkan seniman muda seperti Gilang Zildjian, yang belajar tentang pentingnya gotong royong dalam tradisi Melayu. Festival Payung Api bukan sekadar perayaan, tetapi simbol regenerasi budaya. Inovasi yang diterapkan membuktikan bahwa seni tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi dan maknanya. Tak hanya bernilai filosofi, festival ini juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, terutama di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari, menggabungkan nilai budaya dengan kepedulian ekologis.
Pelestarian Festival Payung Api di DAS Batanghari
Festival Payung Api adalah salah satu dari 12 festival dalam rangkaian Kenduri Swarnabhumi 2024 di sepanjang DAS Batanghari. Menggandeng 10 kabupaten/kota di Provinsi Jambi dan Kabupaten Dharmasraya di Sumatra Barat, festival ini bertujuan menjaga kearifan lokal dan membangkitkan kesadaran pelestarian lingkungan.
Didukung Kemendikbudristek melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, festival ini menjadi ajang refleksi nilai-nilai budaya. Tradisi payung api mungkin telah kehilangan fungsi praktisnya, namun makna harapan, kebersamaan, dan semangat hidup tetap relevan hingga kini.
Penutup
Festival Payung Api menunjukkan bahwa seni dan tradisi Melayu bisa bertransformasi tanpa kehilangan esensi. Semangat kolaborasi, gotong royong, dan inovasi membuat warisan budaya ini tetap hidup. Tradisi ini menyinari generasi muda dan menginspirasi mereka untuk menjaga serta merayakan warisan leluhur.
Simak selalu berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jambi dan Indonesia.



