Tidi lo Polopalo – Salah satu tarian tradisional dari Gorontalo. Tarian ini menggunakan alat musik khas bernama Polopalo. Polopalo terbuat dari seruas bambu dan dipukul untuk menghasilkan bunyi khas yang menghiasi setiap gerakan.
Menurut Wikipedia, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan tarian ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2017. Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas nilai budaya dan sejarahnya. Selain hiburan, tarian ini juga berperan melestarikan nilai-nilai luhur masyarakat Gorontalo.
Sejarah Tidi lo Polopalo
Pada abad ke-16 (1524 – 1581 Masehi), Sultan Amai memimpin Kesultanan Gorontalo. Ia memiliki tiga orang anak: satu laki-laki bernama Matolodulakiki dan dua perempuan bernama Ladihulawa dan Pipito. Suatu ketika, Sultan Amai mengadakan sayembara untuk mencari calon Hulubalang kerajaan. Anak laki-laki Sultan membuat persyaratan yang kemudian dikenal sebagai Molapi Saronde.
Melihat hal itu, kedua putri Sultan Amai merasa ingin ikut berpartisipasi. Mereka meminta izin kepada sang Raja untuk mengadakan persyaratan tertentu seperti kaum laki-laki. Putri Sultan Amai kemudian menciptakan tarian Tidi lo polopalo untuk menampilkan kehalusan budi pekerti, keramahtamahan, serta tanggung jawab kaum wanita setelah berumah tangga.
Pelaksanaan Tidi lo Polopalo
Awalnya, tarian ini hanya dilakukan di lingkungan istana. Kini, masyarakat umum juga dapat menampilkan tarian tersebut. Persyaratan adat dikenal sebagai Mopodungga lo tonggu. Keluarga pengantin menyerahkan sejumlah uang kepada pemangku adat pada malam berhias. Uang tersebut kemudian disalurkan ke Baitul Maal atau kas masjid.
Tarian ini sering tampil pada pesta pernikahan. Selain Polopalo, tarian Tidi O’ayabu juga digunakan. Polopalo dianggap sebagai alat penangkal godaan selama mengarungi rumah tangga. Sementara “ladenga” berbentuk segi empat, melambangkan kehidupan rumah tangga yang dibangun dari segala arah.
Makna Syair Tidi lo Polopalo
Syair-syair yang dibawakan pengiring penari tidi lo polopalo mengandung tema dan amanat tentang kehidupan, khususnya bagi calon pengantin menghadapi cobaan rumah tangga. Contohnya:
wonu odungga lo bali
po’otahangi usabari
dila popotimangulu
dahai utakaburu
Bahasa yang digunakan adalah bahasa adat Gorontalo sehingga maknanya sangat mendalam. Setiap kata dalam syair bertujuan menanamkan nilai keluhuran adat budaya Gorontalo, sekaligus memberikan pesan bagi pasangan pengantin dan hadirin tentang pentingnya menjunjung tinggi adat istiadat serta saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Tidi lo polopalo memperlihatkan bagaimana seni tari tradisional Gorontalo menjadi media edukasi budaya sekaligus hiburan yang kaya makna dan nilai. Dengan menampilkan tarian ini, masyarakat dapat mempertahankan nilai-nilai adat dan tradisi sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal.
Simak selalu berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Gorontalo dan Indonesia.


