Seren Taun Jawa Barat: Ritual Pangan Sunda yang Masih Bertahan

Seren Taun Jawa Barat: Ritual Pangan Sunda yang Masih Bertahan

Aprillia Pradana

Last Updated: 11 January 2026, 15:17

Bagikan:

tradisi seren taun sunda
Table of Contents

Seren Taun: Ritual Pangan Jawa Barat yang Tak Pernah Benar-Benar Mati

 

Ketika kita membicarakan Jawa Barat, yang sering muncul adalah gunung, sawah, dan kota-kota yang tumbuh cepat. Namun di balik perubahan itu, ada satu tradisi yang terus berulang dengan ritmenya sendiri: Seren Taun.

Di beberapa kampung Sunda, panen bukan hanya soal hasil pertanian. Ia adalah peristiwa sosial, ia adalah momen pulang, ia adalah cara sebuah komunitas mengingat dari mana makanan berasal dan kepada siapa rasa syukur ditujukan.

Di tengah dunia yang makin jauh dari ladang dan lumbung, Seren Taun menjadi pengingat bahwa pangan bukan sekadar komoditas. Ia adalah hubungan.

 

Ritual yang lahir dari masyarakat agraris

Seren Taun adalah upacara adat masyarakat Sunda yang berkaitan dengan siklus pertanian, khususnya panen padi. Tradisi ini masih dijalankan di beberapa wilayah Jawa Barat seperti Kuningan, Sukabumi, Bogor, dan komunitas adat seperti Cigugur dan Kampung Naga.

Secara sederhana, Seren Taun menandai berakhirnya satu masa tanam dan dimulainya masa baru. Namun secara budaya, ia jauh lebih luas. Seren Taun adalah peristiwa tahunan yang mengumpulkan warga, menyatukan generasi, dan menghubungkan manusia dengan alam.

Di saat sebagian besar masyarakat modern mengenal beras hanya sebagai produk toko, Seren Taun mengingatkan bahwa pangan memiliki perjalanan panjang sebelum tiba di piring kita.

 

Jejak tua yang hidup di luar catatan resmi

Seren Taun diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu, tumbuh bersama masyarakat agraris Sunda. Tradisi ini berkembang dari kepercayaan lokal yang memandang padi bukan sekadar tanaman, melainkan sumber kehidupan yang memiliki nilai spiritual dan sosial.

Dalam sejarahnya, Seren Taun tidak berdiri sebagai upacara tunggal. Ia menyatu dengan sistem penanggalan pertanian, struktur kampung, serta nilai gotong royong. Padi yang dipanen tidak langsung dihabiskan, tetapi disimpan di lumbung sebagai cadangan bersama.

Warisan ini diwariskan bukan lewat buku, melainkan lewat praktik: lewat orang tua, lewat kampung, lewat musim yang terus berulang.

 

Bukan sekadar ritual, tapi bahasa simbol

Seren Taun biasanya berlangsung beberapa hari dan melibatkan hampir seluruh kampung. Prosesi dapat berbeda di tiap daerah, namun memiliki benang merah yang sama.

Beberapa unsur umum dalam Seren Taun meliputi:

  • Arak-arakan hasil panen, sebagai simbol rasa syukur
  • Penyerahan padi ke leuit (lumbung), lambang keberlanjutan hidup
  • Doa bersama, sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan alam
  • Kesenian tradisional, seperti angklung, tari, dan musik rakyat
  • Makan bersama, sebagai penutup dan peneguh kebersamaan

Setiap unsur bukan dekorasi. Ia adalah simbol hubungan: antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Dalam Seren Taun, pangan tidak diperlakukan sebagai milik individu, tetapi sebagai berkah kolektif.

 

Ketika ritual menjadi ruang kebersamaan

Seren Taun tidak hanya menjaga relasi manusia dengan alam, tetapi juga dengan komunitas. Ia adalah ruang di mana perbedaan usia, peran, dan latar belakang melebur.

Di sana, anak-anak melihat bagaimana padi dihormati. Orang dewasa bertemu dalam kerja bersama. Orang tua menjadi penjaga ingatan kolektif.

Dalam masyarakat Sunda, Seren Taun membentuk identitas: bahwa hidup tidak berdiri sendiri. Bahwa hasil bumi tidak lahir dari satu tangan. Bahwa keberlanjutan hanya mungkin jika dijaga bersama.

 

Antara pelestarian dan pergeseran makna

Hari ini, Seren Taun tidak sepenuhnya tinggal di kampung. Ia hadir di media sosial, kalender pariwisata, dan liputan budaya. Sebagian orang mengenalnya sebagai festival. Sebagian lain sebagai atraksi.

Di satu sisi, visibilitas ini membantu tradisi tetap hidup. Anak muda datang, kamera merekam, cerita menyebar. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang pelan-pelan relevan: apakah Seren Taun masih menjadi ritual, atau mulai bergeser menjadi tontonan?

Perdebatan ini wajar. Ia menandakan bahwa Seren Taun masih hidup, masih dinegosiasikan maknanya, masih punya tempat dalam kesadaran hari ini.

 

Jika ritual hanya tinggal dokumentasi

Tantangan terbesar Seren Taun bukan ketiadaan panggung, melainkan ketiadaan regenerasi. Urbanisasi, perubahan pekerjaan, dan sistem pangan modern membuat banyak generasi muda tumbuh jauh dari sawah.

Jika Seren Taun hanya dikenang sebagai festival tahunan, bukan sebagai cara hidup, maka ia berisiko kehilangan ruhnya.

Namun peluang tetap ada. Pendidikan budaya, keterlibatan komunitas, dan ruang-ruang dialog antargenerasi membuka kemungkinan bahwa Seren Taun tidak hanya bertahan, tetapi menemukan bentuk barunya.

PENUTUP 

Seren Taun menunjukkan bahwa budaya tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang besar dan meriah. Kadang ia hidup dalam hal paling mendasar: menanam, menyimpan, dan berbagi.

Di tengah dunia yang mempercepat segalanya, Seren Taun menawarkan tempo lain. Ia mengajak kita berhenti. Mengingat. Dan melihat kembali hubungan kita dengan pangan, alam, dan sesama.

Mungkin tidak semua dari kita tumbuh bersama Seren Taun. Namun memahami tradisi seperti ini adalah salah satu cara untuk tidak sepenuhnya tercerabut dari akar yang membentuk siapa kita hari ini.

 

/ Search /

/ Artikel Lainnya /