Ruwatan: Tradisi Pembebasan Dosa dalam Budaya Jawa Kuno

Ruwatan: Tradisi Pembebasan Dosa dalam Budaya Jawa Kuno

Last Updated: 10 January 2026, 06:00

Bagikan:

ruwatan
Foto: Indonesia Kaya

Ruwatan – Tradisi adat Jawa yang masih dijalankan hingga kini sebagai ritual penyucian diri. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya membebaskan manusia dari dosa, kesalahan, serta kesialan yang diyakini dapat memengaruhi perjalanan hidup.

Mengacu pada Indonesia Kaya, ritual ini umumnya dilaksanakan bertepatan dengan Tahun Baru Jawa, yaitu 1 Suro, yang beriringan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Momentum tersebut dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan dan kesejahteraan hidup.

Ruwatan sebagai Tradisi Pembebasan Dosa

Makna dan Tujuan Ruwatan

Dalam budaya Jawa kuno, ruwatan dipahami sebagai sarana penyucian manusia dari dosa dan kesalahan yang berdampak pada kesialan hidup. Kesialan tersebut diyakini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kesulitan hidup hingga hambatan dalam keseharian. Di sisi lain, ritual ini juga bertujuan menjaga keberlanjutan kebudayaan Jawa kuno. Melalui pelaksanaannya, masyarakat berupaya mencari keseimbangan dan kesejahteraan hidup dengan tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur.

Waktu Pelaksanaan

Pelaksanaan ruwatan biasanya dilakukan pada tanggal 1 Suro, yang dianggap sebagai hari sakral dalam penanggalan Jawa. Pada hari ini, masyarakat meyakini adanya kekuatan spiritual yang membuat prosesi penyucian diri menjadi lebih bermakna. Momentum tersebut juga menjadi penanda pergantian waktu. Manusia diajak merefleksikan kesalahan masa lalu dan memulai lembaran hidup baru dengan harapan yang lebih baik.

Prosesi dan Ritual dalam Ruwatan

Gambaran Umum Prosesi Ruwatan

Dalam prosesi ruwatan, puluhan peserta kerap terlihat mengenakan pakaian serba putih. Mereka berbaris dengan tertib, lalu satu per satu disiram air kembang oleh seorang dalang. Air kembang melambangkan pembersihan diri dari unsur negatif. Busana putih yang dikenakan menjadi simbol kesucian serta niat tulus untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah ritual dilaksanakan.

Tahapan Ritual Ruwatan

Pelaksanaan ruwatan dilakukan melalui sejumlah tahapan upacara. Di antaranya doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan, sungkeman anak kepada orang tua sebagai simbol bakti, serta jamasan atau mandi jamas. Jamasan dilakukan menggunakan air londho merang, yakni air rebusan jerami padi. Air ini dipercaya melambangkan penyucian dan pelepasan dari kesialan. Rangkaian tersebut menegaskan bahwa ritual ini menyentuh aspek fisik sekaligus spiritual.

Unsur Mistis dan Budaya dalam Ruwatan

Sesajen sebagai Bagian Ritual

Ruwatan kerap dikaitkan dengan unsur mistis karena berkaitan dengan kepercayaan leluhur. Hal ini tampak dari penggunaan sesajen dalam setiap pelaksanaannya. Sesajen biasanya terdiri dari buah-buahan, sayuran, serta hewan seperti ayam. Kehadirannya menjadi bagian dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Wayang Kulit dalam Tradisi Ruwatan

Selain rangkaian upacara, peserta juga menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang dimainkan oleh dalang. Pertunjukan ini penuh pesan moral dan nilai kehidupan. Wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi hidup yang sejalan dengan tujuan ritual, yakni penyucian diri dan pencarian keseimbangan.

Penutup

Ruwatan menunjukkan bagaimana budaya Jawa kuno memaknai kehidupan melalui ritual penyucian diri yang kaya simbol dan filosofi. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa telah memiliki cara tersendiri untuk menghadapi kesalahan, kesialan, dan harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera.

Jangan lewatkan berbagai berita menarik lainnya seputar budaya Indonesia dan upacara tradisional di Negeri Kami. Mari bersama-sama melestarikan tradisi serta filosofi hidup bangsa melalui pengetahuan dan pengalaman yang berakar pada nilai budaya.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Tengah

Acara Sakral

-

Budaya

Budaya Lainnya