Reog Ponorogo: Dari Simbol Perlawanan hingga Warisan Budaya

Reog Ponorogo: Dari Simbol Perlawanan hingga Warisan Budaya

Last Updated: 8 January 2026, 06:00

Bagikan:

reog ponorogo
Foto: Wikipedia

Reog Ponorogo – Tarian tradisional dari Ponorogo, Jawa Timur, yang dipentaskan di arena terbuka sebagai hiburan rakyat dan mengandung unsur magis yang kuat. Berdasarkan keterangan Wikipedia, kesenian ini menampilkan penari utama berkepala singa dengan hiasan bulu merak raksasa atau Singa Barong, dengan berat topeng mencapai 50 – 60 kilogram dan dibawa menggunakan kekuatan gigi.

Sebagai seni budaya yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur bagian barat laut, Reog Ponorogo tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan rakyat. Kesenian ini juga memuat nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Ponorogo.

Tentang Reog Ponorogo

Reog berasal dari wilayah Ponorogo yang secara luas diakui sebagai kota asal Reog. Identitas tersebut tercermin pada gerbang kota Ponorogo yang dihiasi patung warok dan gemblak, dua tokoh penting dalam pertunjukan Reog. Kesenian ini dikenal sangat kental dengan unsur mistik dan ilmu kebatinan.

Dalam pementasannya, Reog menghadirkan tarian tradisional di arena terbuka yang melibatkan penari bertopeng, jathilan atau jaran kepang, serta rangkaian tokoh pendukung lainnya. Saat ini dikenal dua bentuk utama Reog Ponorogo, yakni Reog Obyog dan Reog Festival.

Reog Obyog biasanya dipentaskan secara bebas di pelataran atau jalan tanpa mengikuti pakem tertentu dan sering hadir dalam acara hajatan, bersih desa, atau pertunjukan hiburan rakyat. Sementara itu, Reog Festival telah ditata mengikuti pakem dan ditampilkan dalam Festival Reog Ponorogo yang rutin diselenggarakan sejak 1997.

Sejarah Reog Ponorogo

Reog dikenal melalui beberapa versi cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan pemberontakan Ki Ageng Kutu pada masa pemerintahan Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu merupakan seorang abdi kerajaan yang kecewa terhadap pemerintahan yang dianggap korup dan berada di bawah pengaruh kuat pihak luar.

Karena tidak memiliki kekuatan militer yang cukup, Ki Ageng Kutu menyampaikan kritik dan perlawanan melalui seni pertunjukan Reog. Dalam pertunjukan tersebut, Singa Barong melambangkan raja, sementara bulu merak yang menjulang di atasnya menyimbolkan pengaruh kuat pihak lain yang mengendalikan kekuasaan. Warok digambarkan sebagai sosok yang menopang berat Singa Barong sendirian, menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan yang menindas.

Kepopuleran Reog akhirnya mendorong kerajaan mengambil tindakan dengan membubarkan perguruan Ki Ageng Kutu. Meski demikian, kesenian Reog tetap dipentaskan dengan alur cerita baru yang memasukkan tokoh-tokoh rakyat seperti Klono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Bujang Ganong, yang kemudian menjadi cerita resmi Reog Ponorogo.

Tokoh-tokoh dalam Seni Reog Ponorogo

Warok merupakan tokoh utama yang memiliki makna mendalam dalam Reog Ponorogo. Warok dimaknai sebagai sosok berilmu, matang secara lahir dan batin, serta menjadi panutan masyarakat. Ia tidak hanya berperan sebagai penari, tetapi juga penjaga nilai spiritual dalam kesenian Reog.

Jathil adalah prajurit berkuda yang menggambarkan ketangkasan dan kedisiplinan pasukan. Pada awalnya tarian ini dibawakan oleh gemblak, namun sejak 1980-an diperankan oleh penari perempuan. Gerak tarinya menonjolkan kelincahan dan ketepatan ritme.

Bujang Ganong tampil sebagai tokoh energik dan jenaka dengan topeng merah yang khas. Sementara Klono Sewandono digambarkan sebagai raja muda yang gagah dan sakti dengan pusaka Pecut Samandiman. Puncak pertunjukan ditandai dengan kemunculan Singa Barong, tokoh paling dominan dengan dadak merak berukuran besar dan berat yang luar biasa.

Pementasan dan Penyebaran Reog

Dalam praktik modern, Reog kerap dipentaskan pada acara pernikahan, khitanan, serta peringatan hari besar nasional. Pertunjukan biasanya diawali dua hingga tiga tarian pembuka, dilanjutkan dengan adegan inti yang disesuaikan dengan konteks acara. Interaksi antara pemain, dalang, dan penonton menjadi ciri khas yang membuat Reog bersifat dinamis.

Reog juga telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Jerman, hingga kawasan Asia. Keberadaan Reog di luar negeri, khususnya di Malaysia, sempat menimbulkan kontroversi, namun ditegaskan sebagai budaya asli Indonesia yang dibawa oleh perantau Jawa.

Pengakuan Dunia terhadap Reog

Pada 3 Desember 2024, Reog Ponorogo resmi masuk dalam daftar UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak. Pengakuan ini menegaskan posisi Reog sebagai bagian penting dari identitas budaya Indonesia yang harus dijaga kelestariannya. Hingga kini, masyarakat Ponorogo terus melestarikan Reog sebagai warisan leluhur yang kaya nilai sejarah, spiritual, dan budaya.

Penutup

Reog Ponorogo membuktikan bahwa seni tradisi mampu menjadi media perlawanan, sarana ekspresi budaya, sekaligus warisan yang bertahan lintas generasi. Dari arena terbuka desa hingga panggung internasional, Reog tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat Ponorogo.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jawa Timur dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Timur

Tarian

Kabupaten Ponorogo

Budaya

Budaya Lainnya