Rumah Bentang Samalantan – Rumah adat masyarakat Dayak yang digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pelaksanaan upacara adat, terutama upacara naik dango saat musim panen tiba. Bangunan ini memegang peran penting dalam kehidupan spiritual dan adat masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Berdasarkan Indonesia Kaya, keberadaan rumah bentang tidak sekadar sebagai bangunan fisik. Rumah ini juga berfungsi sebagai ruang sakral yang mempersatukan nilai kepercayaan, adat istiadat, dan kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Fungsi Rumah Bentang Samalantan
Rumah bentang samalantan digunakan oleh masyarakat Dayak untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Salah satu upacara adat utama yang dilaksanakan di rumah ini adalah upacara naik dango, yaitu ritual adat yang dilakukan ketika musim panen tiba sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jubata atau Tuhan Yang Maha Esa.
Selain upacara naik dango, rumah bentang juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai ritual adat lain yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Dayak. Fungsi ini menjadikan rumah bentang sebagai pusat spiritual yang memiliki nilai sakral tinggi bagi komunitas setempat.
Letak dan Lingkungan Rumah Bentang Samalantan
Rumah bentang samalantan terletak di antara jalur Provinsi Bengkayang-Singkawang. Lokasi bangunan berada sekitar 300 meter dari jalan provinsi, tepatnya di Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Posisi rumah bentang berada di kaki bukit yang dikelilingi hamparan sawah luas, dengan pepohonan besar di bagian belakang bangunan. Lingkungan alam ini memberikan nuansa alami dan mendukung suasana sakral saat upacara adat dan kegiatan keagamaan berlangsung.
Struktur dan Ciri Khas Rumah Bentang Samalantan
Bentuk Bangunan dan Akses Masuk
Rumah bentang samalantan merupakan sejenis rumah panggung yang dibangun dengan kedalaman tiang sekitar 120 kaki tertanam langsung ke tanah. Untuk memasuki bangunan utama, pengunjung harus menaiki tangga utama yang berada di sisi kiri dan kanan rumah.
Di area depan rumah, pengunjung akan disambut oleh patung burung enggang yang dikeramatkan oleh masyarakat Dayak. Tepat di seberang rumah bentang, terdapat bangunan lain yang difungsikan sebagai balai pertemuan warga.
Tata Ruang dan Ornamen Interior
Rumah bentang samalantan memiliki empat ruangan, terdiri atas dua ruangan di sisi kiri dan dua ruangan di sisi kanan. Keempat ruangan tersebut dipisahkan oleh ruang keluarga yang berada di bagian tengah rumah.
Pada dinding-dinding ruangan, terdapat hiasan bermotif Dayak yang terbuat dari kayu. Selain itu, pada tiap tiang penyangga terdapat tempayan berukuran sedang, serta patung-patung kayu yang diletakkan di dekat tangga utama sebagai bagian dari unsur adat dan kepercayaan masyarakat.
Nilai Filosofis dan Simbol Kepercayaan
Makna Tulisan Adat Dayak
Di samping jalan masuk menuju rumah bentang, terdapat sebuah tembok kecil bertuliskan kalimat adat Dayak: “Adil Katalino Bacaramin Kasurga, Basengat Ka Jubata.” Kalimat “Adil Katalino Bacaramin Kasurga” bermakna bersikap adil kepada sesama manusia di dunia dan selalu bercermin pada nilai-nilai kebaikan. Sementara itu, “Basengat Ka Jubata” berarti bahwa seluruh kehidupan di dunia ini diberi napas dan hidup oleh Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman hidup masyarakat Dayak hingga kini.
Patung Nek Ramaga
Sebelum mencapai rumah bentang, di sisi kiri jalan terdapat sebuah kolam kecil dan patung Nek Ramaga. Menurut riwayat, Nek Ramaga merupakan salah satu pemimpin komunitas Dayak yang hidup di Kampung Pakana Bahana di hulu Sungai Mempawah.
Karena dianggap sakral, patung Nek Ramaga dilengkapi dengan tempayan kecil yang digunakan sebagai tempat sesaji oleh masyarakat Dayak. Keberadaan patung ini menegaskan kuatnya nilai kepercayaan dan penghormatan terhadap tokoh leluhur.
Peresmian dan Peran Hingga Kini
Rumah bentang samalantan diresmikan pendiriannya pada 27 April 1996 oleh Bupati Sambas pada masa itu. Saat peresmian, wilayah Singkawang dan Bengkayang masih menjadi bagian dari Kabupaten Sambas. Hingga kini, rumah bentang samalantan tetap berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan dan upacara adat naik dango, sekaligus menjadi simbol keberlanjutan budaya dan kepercayaan masyarakat Dayak.
Penutup
Rumah bentang samalantan merupakan pusat kegiatan keagamaan Dayak yang memiliki peran penting dalam menjaga tradisi, kepercayaan, dan nilai adat masyarakat setempat. Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat ritual, tetapi juga ruang sakral yang merepresentasikan hubungan manusia, alam, dan Tuhan.
Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Indonesia di Negeri Kami, serta temukan beragam cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi lokal yang kaya makna dan penuh nilai sejarah.



