Candi Lor: Candi Tertua di Jawa Timur yang Sengaja Dilupaka

Candi Lor: Candi Tertua di Jawa Timur yang Sengaja Dilupaka

Aprillia Pradana

Last Updated: 28 December 2025, 16:20

Bagikan:

Table of Contents

Ada satu candi tua yang nyaris hilang dari perbincangan publik: Candi Lor. Padahal, candi ini bukan sekadar bangunan kuno biasa. Usianya lebih dari seribu tahun, bahkan berdiri lebih awal dibanding banyak situs besar yang selama ini kita kenal dan banggakan.

Ironisnya, keberadaan Candi Lor justru berada di posisi low profile. Namanya jarang muncul di buku sejarah populer. Promosi wisatanya minim. Generasi muda pun nyaris tak mengenalnya.

Dari sini muncul satu pertanyaan yang sulit dihindari:
apakah situs sejarah sepenting ini memang sengaja dilupakan?

Jejak Sejarah yang Terabaikan

Candi Lor didirikan pada tahun 859 Saka atau 937 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di Jawa Timur. Pendirian candi ini berkaitan langsung dengan tokoh penting, yaitu Mpu Sindok.

Pada masanya, Candi Lor tidak hanya berfungsi sebagai bangunan religius. Candi ini juga menjadi tugu kemenangan, penanda keberhasilan pasukan setempat bersama Mpu Sindok dalam mengalahkan musuh.

Peristiwa tersebut kemudian melahirkan sebutan Anjuk Ladang, nama lama wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Nganjuk.

Lebih dari itu, Candi Lor juga menjadi simbol persatuan dan kebebasan lokal. Wilayah di sekitarnya ditetapkan sebagai sima swatantra, atau tanah bebas pajak. Sebagai gantinya, masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat candi tersebut.

Sayangnya, sejarah besar seperti ini jarang diangkat dalam diskusi wisata sejarah nasional maupun buku-buku umum. Padahal, kisah Candi Lor mampu memberi perspektif baru tentang perjalanan sejarah Jawa Timur.

Bangunan yang “Menyusut” oleh Waktu dan Alam

Salah satu keunikan Candi Lor terletak pada material bangunannya. Seluruh struktur candi dibuat dari bata merah, bukan batu andesit seperti kebanyakan candi besar di Jawa.

Sekilas, bata merah membuat Candi Lor terlihat sederhana. Bahkan, tak sedikit wisatawan kasual yang menganggapnya “tidak terlalu istimewa”.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan masalah besar.

Karena terbuat dari bata, Candi Lor kini mengalami pelapukan yang nyata. Ukurannya menyusut dari bentuk aslinya. Permukaannya terus tergerus cuaca dan waktu.

Di bagian tengah kompleks candi, tumbuh pohon kepuh raksasa yang usianya diperkirakan ratusan tahun. Akar-akar pohon tersebut menjalar dan mencengkeram struktur bangunan.

Bagi sebagian orang, pemandangan ini terlihat indah dan dramatis. Namun bagi para ahli pelestarian, kondisi tersebut merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan candi.

Di Tengah Permukiman: Kenyamanan atau Malapetaka Budaya?

Berbeda dengan candi-candi besar lain yang berada di kawasan wisata khusus, Candi Lor justru berdiri di tengah permukiman warga.

Lokasinya berada di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Kondisi ini menciptakan dua sisi yang bertolak belakang.

Di satu sisi, Candi Lor hidup berdampingan dengan masyarakat. Ia bukan sekadar situs mati yang dipagari dan dijauhkan dari kehidupan sehari-hari.

Namun di sisi lain, posisi ini membuat Candi Lor kurang terlihat oleh wisatawan luas. Infrastruktur wisata terbatas. Fasilitas edukasi sejarah minim. Jalur promosi pun kalah jauh dibanding candi-candi besar di Jawa Tengah.

Akibatnya, Candi Lor tetap sunyi di tengah hiruk-pikuk pariwisata budaya nasional.

Drama Identitas dan Narasi Sejarah

Candi Lor bukan hanya menyimpan bata dan reruntuhan. Ia juga menyimpan cerita sosial, kemenangan, dan ritual lokal.

Hingga kini, area candi masih digunakan untuk ritual tertentu. Di sekitarnya juga terdapat makam-makam kuno yang berasal dari masa awal keberadaannya.

Namun sayangnya, narasi ini jarang muncul dalam buku sejarah arus utama atau kurikulum pendidikan populer.

Hal ini memunculkan pertanyaan penting:
apakah wisata sejarah Indonesia terlalu terfokus pada ikon besar, hingga melupakan situs-situs bernilai tinggi lainnya?

Padahal, meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya, upaya konservasi dan promosi Candi Lor masih perlu ditingkatkan. Tanpa itu, generasi muda dan wisatawan luar akan terus melewatkan satu bagian penting dari sejarah Jawa Timur.

Penutup

Sejarah bukan hanya soal bangunan megah. Ia juga tentang narasi yang kita pilih untuk diingat. Membiarkan Candi Lor terlupakan berarti membiarkan satu bab sejarah terkikis tanpa suara.

/ Search /

/ Artikel Lainnya /