Kalau kamu mengira tradisi desa selalu rapi, tertib, dan penuh khidmat, berarti kamu belum pernah menyaksikan Gebyar Ngunduh Duren di Kudus. Tradisi tahunan ini bukan hanya soal durian melimpah, tetapi juga tentang euforia massal yang kerap memunculkan pertanyaan lama: ini ritual budaya, atau sekadar rebutan rame-rame yang dibungkus adat?
Setelah sempat terhenti akibat pandemi, Gebyar Ngunduh Duren Kudus kembali digelar di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Sejak Minggu pagi (19/12), ratusan warga sudah memadati desa yang dikenal sebagai salah satu sentra durian terbesar di Kudus itu.
Padahal, kirab gunungan baru dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB. Namun sejak pukul 07.00 WIB, jalan utama desa sudah dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki. Banyak orang rela berdiri berjam-jam hanya demi satu tujuan sederhana: pulang membawa durian.
14 Gunungan, Satu Tujuan: Rezeki
Sebanyak 14 gunungan berisi durian dan hasil bumi warga diarak dari halaman Masjid Al Ikhlas menuju panggung utama sejauh sekitar 500 meter. Gunungan tersebut berasal dari 11 RW, ditambah dua gunungan sponsor.
Tradisi ini menjadi pelaksanaan ketiga dari seharusnya empat kali gelaran. Pada 2020, acara ini terpaksa ditiadakan karena pandemi Covid-19.
Kepala Desa Margorejo, Sumir Khan, menegaskan bahwa Gebyar Ngunduh Duren bukan sekadar hiburan tahunan.
“Desa Margorejo dikenal sebagai penghasil durian. Tradisi ini kami gelar sebagai atraksi wisata sekaligus wujud rasa syukur atas hasil bumi warga,” ujarnya.
Namun, suasana berubah drastis ketika gunungan mulai didekatkan ke warga.
Saat Syukur Bertemu Adrenalin
Tanpa aba-aba panjang, sebagian gunungan langsung diserbu. Teriakan terdengar di mana-mana. Dorong-dorongan tak terhindarkan. Tangan-tangan terjulur berebut durian menjadi pemandangan yang nyaris selalu hadir dalam tradisi ini.
Di sinilah Gebyar Ngunduh Duren Kudus terasa “tidak masuk akal”, tetapi justru selalu dinanti.
Saiful, salah satu warga, mengaku tangannya terluka karena tertusuk duri durian saat berebut.
“Enggak pakai sarung tangan. Namanya juga rebutan, tangan saya sampai berdarah,” katanya sambil tertawa kecil, seolah luka itu bagian dari pengalaman wajib.
Cerita berbeda datang dari Gianto. Ia berhasil membawa pulang enam buah durian tanpa luka sedikit pun karena dibantu teman-temannya. Di tengah kerumunan, solidaritas dan strategi ternyata sama pentingnya dengan tenaga.
Rebutan Sebelum Ritual Resmi
Fakta menarik lainnya, dari 14 gunungan, 11 gunungan ludes lebih dulu bahkan sebelum prosesi simbolis petik durian dilakukan oleh Bupati Kudus Hartopo. Tiga gunungan sisanya baru dibagikan setelah prosesi resmi tersebut.
Di sinilah pro dan kontra mulai muncul. Bagi sebagian orang, tradisi ini dianggap sebagai simbol rezeki yang memang harus diupayakan. Namun, ada pula yang menilai pola rebutan bebas berisiko membahayakan warga dan mengaburkan nilai sakral budaya.
Antusiasme yang Tak Pernah Padam
Meski menuai perdebatan, satu hal tak terbantahkan: antusiasme warga. Gebyar Ngunduh Duren bukan hanya soal durian. Ia adalah pertemuan lintas generasi dalam satu ruang emosi.
Anak-anak berteriak kegirangan. Orang dewasa berjuang di tengah kerumunan. Para sesepuh menyaksikan dengan senyum atau sesekali gelengan kepala kecil.
Tradisi ini tetap hidup karena dirawat, meski bentuknya tidak selalu ideal. Ia menjadi pengingat bahwa budaya bukan benda museum yang kaku, melainkan praktik hidup yang terus berubah, diperdebatkan, bahkan diprotes tetapi tetap dicintai.
Penutup
Gebyar Ngunduh Duren Kudus mungkin terlihat riuh, absurd, dan kontroversial. Namun justru di sanalah daya tariknya. Tradisi ini mengajarkan bahwa rasa syukur tidak selalu hadir dalam keheningan.
Kadang, syukur datang lewat tawa, luka kecil di tangan, dan durian yang direbut ramai-ramai. Dan di tengah dunia yang makin individualistis, tradisi seperti ini meski berisik dan tak rapi—masih punya tempat penting: mengingatkan kita bahwa kebersamaan kadang memang ribut, tetapi selalu bermakna.