Tari Seudati: Warisan Budaya Aceh yang Menggetarkan Jiwa

Tari Seudati: Warisan Budaya Aceh yang Menggetarkan Jiwa

Last Updated: 27 December 2025, 03:00

Bagikan:

tari seudati
Foto: Instagram / Wisata Religi Aceh

Tari Seudati – Salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh dan ditarikan oleh sekelompok penari pria dengan gerakan khas yang enerjik. Tarian ini diiringi oleh lantunan syair serta suara hentakan kaki, tepukan dada, dan petikan jari para penari yang menciptakan irama kuat dan menggetarkan.

Menurut Wikipedia, tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara, seperti acara adat, pertunjukan seni, dan kegiatan budaya. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas serta warisan budaya masyarakat Aceh.

Sejarah Perkembangan Tari Seudati di Aceh

Tari Seudati awalnya tumbuh dan berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh. Pada masa awal kemunculannya, tarian ini dipimpin oleh Syeh Tam. Dari wilayah tersebut, kesenian ini kemudian berkembang ke daerah lain. Salah satunya Desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Seiring waktu, tarian ini menyebar ke berbagai daerah di Aceh. Kesenian ini pun dikenal luas dan hidup di hampir seluruh wilayah Aceh.

Pada masa lalu, kesenian tersebut digunakan sebagai media dakwah Islam. Pada masa penjajahan Belanda, pertunjukan ini sempat dilarang. Syair yang dibawakan dianggap mampu membangkitkan semangat perjuangan pemuda Aceh. Setelah Indonesia merdeka, Tari Seudati kembali diperbolehkan. Tarian ini kemudian berkembang sebagai tarian pertunjukan hingga sekarang.

Fungsi dan Makna Tari Seudati

Pada awal kemunculannya, Tari Seudati difungsikan sebagai sarana dakwah. Nama Seudati berasal dari kata “Syahadat” yang berarti bersaksi, atau dalam konteks Islam bermakna pengakuan terhadap Tuhan dan Nabi. Makna tersebut erat kaitannya dengan syair-syair yang dilantunkan dalam pertunjukan.

Syair yang dibawakan umumnya berisi ajaran agama dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, setiap gerakan juga mengandung nilai dan makna tertentu yang mencerminkan pesan moral, religius, serta semangat kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Bentuk Pertunjukan Tari Seudati

Dalam pertunjukannya, Tari Seudati biasanya dimainkan oleh delapan orang penari pria. Susunan penari terdiri dari satu orang syeh, satu pembantu syeh, dua orang apeet wie, satu apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, terdapat dua orang pelantun syair yang disebut aneuk syahi.

Gerakannya dikenal khas, enerjik, dan lugas. Pola tari didominasi oleh gerakan tangan dan kaki dengan variasi pola lantai. Gerakan yang paling menonjol meliputi tepuk dada, ketipan jari, ayunan tangan, serta hentakan kaki yang dilakukan secara cepat, lincah, dan harmonis. Kekompakan para penari inilah yang kerap membuat penonton terpukau saat menyaksikan pertunjukan.

Pengiring dan Irama

Berbeda dengan banyak tarian tradisional lainnya, Tari Seudati tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring. Pertunjukan tari ini hanya diiringi oleh lantunan syair yang dinyanyikan oleh aneuk syahi serta bunyi yang dihasilkan dari gerakan tubuh para penari.

Suara tepukan dada, hentakan kaki, dan petikan jari menjadi unsur utama pengiring tari. Seluruh gerakan tersebut disesuaikan dengan irama dan tempo syair yang dilantunkan, sehingga menciptakan kesan harmonis dan ritmis dalam setiap pertunjukan Tari Seudati.

Kostum Penari

Kostum yang dikenakan penari Tari Seudati mencerminkan adat dan identitas budaya Aceh. Para penari biasanya mengenakan baju ketat berlengan panjang dan celana panjang berwarna putih. Warna putih melambangkan kesucian dan kesederhanaan.

Sebagai pelengkap, penari juga menggunakan kain songket yang dikenakan di bagian pinggang hingga paha, rencong yang disisipkan di pinggang, serta tangkulok atau ikat kepala berwarna merah. Seluruh kostum ini memperkuat karakter Tari Seudati sebagai tarian tradisional yang sarat makna.

Upaya Pengakuan Dunia

Pemerintah Aceh telah mengupayakan pendaftaran Tari Seudati ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Langkah ini dilakukan agar kesenian tersebut diakui secara resmi sebagai bagian dari warisan budaya dunia milik masyarakat Aceh.

Keunikannya menjadi salah satu alasan penting dalam proses tersebut. Tarian ini menggunakan tangan dan tubuh sebagai media utama gerak, tanpa alat musik khusus, kecuali bunyi tepukan dan hentakan yang dihasilkan oleh para penari.

Penutup

Tari Seudati merupakan warisan budaya Aceh yang tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, religius, dan sosial yang kuat. Keberadaannya hingga kini menunjukkan bahwa budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Aceh dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Aceh

Tarian

Kabupaten Pidie / Kecamatan Simpang Tiga / Desa Gigieh, Kabupaten Pidie / Kecamatan Mutiara / Desa Didoh

Budaya

Budaya Lainnya