Aesan Gede: Pesona Busana Emas Warisan Budaya Palembang

Aesan Gede: Pesona Busana Emas Warisan Budaya Palembang

Last Updated: 22 December 2025, 03:00

Bagikan:

aesan gede
Foto: Pinterest / Semua Ada Disini

Aesan Gede – Salah satu busana tradisional Melayu Palembang yang berasal dari Sumatera Selatan. Aesan berarti perhiasan, sedangkan Gede bermakna nenek atau leluhur. Penamaan busana ini terkait dengan julukan Sumatra sebagai Suwarna-dwipa, atau ‘pulau emas’, yang tercermin dari kelengkapan busana berupa perhiasan bercitrakan keemasan. Busana ini melambangkan kebesaran pemakainya dan termasuk salah satu jenis kain songket yang dahulu sering dipakai oleh kaum bangsawan.

Menurut Wikipedia, busana ini dikenakan pada upacara adat pernikahan, khususnya pada acara munggah, puncak upacara adat yang wajib dijalankan oleh kedua mempelai. Unsur Hindu-Buddha juga terkandung dalam busana ini, karena Aesan Gede berasal dari Kerajaan Sriwijaya, yang menganut kepercayaan Hindu-Buddha. Bukit Siguntang di kawasan Bukit Kecil dulunya menjadi tempat pemujaan atau tempat ibadah umat Hindu-Buddha.

Sejarah Aesan Gede

Aesan Gede merupakan warisan budaya yang terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya. Busana ini awalnya digunakan oleh bangsawan sebagai simbol status sosial dan kekuasaan. Seiring waktu, busana ini menjadi bagian penting dari upacara pernikahan, terutama dalam acara munggah, yang menandai puncak rangkaian upacara adat.

Keunikannya terlihat dari penggunaan kain songket bercorak emas (songket lepus) dan ornamen keemasan yang memperlihatkan kemegahan penggunanya. Nama Aesan Gede sendiri menggambarkan nilai leluhur dan kemuliaan, sementara ragam hias dan aksesori yang dikenakan menjadi simbol identitas budaya masyarakat Palembang.

Fungsi Aesan Gede

  • Fungsi Estetis: Mempercantik penampilan melalui ornamen seperti Kesuhun, Bungo Cempako, Kelapo Setandan, Gelang Sempuru, Gelang Gepeng, Gelang Ulo Betapo, Kulit Bahu, Kalung Kebo Munggah, Slempang Sawir, Tebeng Malu, Saputangan Segitiga, dan Bungo Rampai.
  • Fungsi Simbolis: Menunjukkan identitas sosial, status, dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Unsur simbolis ini terlihat pada penggunaan kain songket, celano sutra, Gandik, Gelung Malang, Taratai, Kalung Kebo Munggah, serta berbagai perhiasan yang menandakan peran dan posisi pemakainya dalam masyarakat.

Makna Motif 

  • Bunga Melati: melambangkan kesucian, keanggunan, dan sopan santun mempelai wanita.
  • Bunga Mawar: perlambang penawar dan penjauh dari marabahaya.
  • Pucuk Rebung: melambangkan harapan baik untuk masa depan.
  • Bunga Tanjung: simbol keramahan dan ucapan selamat datang bagi tamu undangan.

Bentuk Aesan Gede

  • Mempelai Pria: Kepala mengenakan Kesuhun dan Tebeng Malu; badan dengan Kalung Kebo Munggah dan Slempang Sawir; tangan memakai Gelang Kulit Bahu, Gelang Sempuru, Gelang Gepeng, Gelang Ulo Betapo; kaki memakai Celano Sutra dan Cenela. Ornamen yang dikenakan pada pria mirip dengan yang dikenakan perempuan.
  • Mempelai Wanita: Kepala memakai Bungo Rampai, Gandik, Gelung Malang, Tebeng Malu, Kesuhun, Kelapo Setandan; badan dengan Taratai, Kalung Kebo Munggah, Songket Lepus; tangan dan kaki memakai Gelang Kulit Bahu, Gelang Sempuru, Gelang Ulo Betapo, Gelang Gepeng; alas kaki Cenela.

Ragam hias busana terdiri dari motif geometris, tumbuhan, dan binatang, terdapat pada kain songket, perhiasan, dan aksesori lainnya. Semua detail ini mencerminkan estetika dan nilai budaya Palembang.

Ciri Khas Aesan Gede

Pengantin Palembang berbusana Aesan Gede biasanya memakai mahkota Kesuhun yang dihias cempaka lima dan tusuk bunga. Sumping berbentuk motif bunga melati menjuntai hingga bahu. Sanggul Gelung Malang mencerminkan budaya Sriwijaya, Tiongkok, dan India, dibawa oleh masyarakat Jawa (Laskar Majapahit) pada abad ke-14, diterapkan dengan rambut imitasi berbentuk angka delapan. Lilitan kain songket menutupi badan hingga kaki, dengan tambahan teratai dada, selendang pelangi jambon, pending emas, kalung, dan gelang.

Aesan Gede juga digunakan oleh penari Tari Gending Sriwijaya, khususnya untuk penyambutan tamu agung kerajaan. Penari mengenakan kemben songket, kewet songket, karsuhun, sumping, cempako, gelung malang, gelang burung, gelang kano, gelang gepeng, kalung kebo munggah, teratai, selempang, pending, bunga rampai, tebeng, antingan, dan kelapo tandan.

Penutup

Aesan Gede bukan sekadar busana tradisional, melainkan warisan budaya yang penuh makna dan sejarah. Setiap motif, ornamen, dan ragam hias mengekspresikan identitas, status sosial, dan nilai luhur masyarakat Palembang yang dijaga turun-temurun.

Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan juga inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian Aesan Gede menjadi salah satu cara menguatkan identitas budaya Palembang serta kreativitas generasi muda.

Search

Video

Budaya Detail

Sumatera Selatan

Pakaian Adat

Kota Palembang

Budaya

Budaya Lainnya