Tabuik Pariaman: Festival Budaya dan Tradisi Penuh Makna

Tabuik Pariaman: Festival Budaya dan Tradisi Penuh Makna

Last Updated: 16 December 2025, 03:00

Bagikan:

tabuik pariaman - festival budaya dan tradisi penuh makna
Foto: Indonesia Kaya

Tabuik – Festival tahunan masyarakat Minangkabau di Kota Pariaman, Sumatera Barat, yang digelar untuk memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad. Festival ini menampilkan prosesi arak-arakan, alat musik gendang tasa, dan rangkaian ritual yang sarat makna.

Menurut Wikipedia, upacara ini awalnya dibawa oleh Pasukan Tamil Muslim Syi’ah dari India pada masa kekuasaan Inggris di Sumatera Barat. Meski awalnya bersifat Syi’ah, kini mayoritas penduduk Pariaman yang mengikuti festival adalah penganut Sunni, dan kegiatan ini telah menjadi identitas budaya serta salah satu objek wisata tahunan kota tersebut.

Sejarah dan Asal-usul Tabuik

Tabuik berasal dari bahasa Arab “tabut” yang berarti peti kayu. Festival ini menampilkan kembali Pertempuran Karbala dan kisah gugurnya Imam Husain. Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-19 Masehi, dan sejak tahun 1982 telah menjadi bagian kalender pariwisata Kota Pariaman. Festival ini dibagi menjadi dua jenis: Tabuik Pasa di sisi selatan sungai dan Subarang di sisi utara sungai, masing-masing memiliki tata cara unik namun tujuan yang sama, yakni memuliakan arwah Imam Husain.

Tahapan Prosesi Tabuik

1. Maambiak Tanah

Ritual dimulai pada 1 Muharram dengan mengambil tanah dari sungai, yang kemudian dimasukkan ke dalam Daraga, simbol kuburan Imam Husain. Proses ini dilakukan oleh pemimpin upacara dari kedua kelompok, Tabuik Pasa dan Subarang, sebagai simbol manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah.

2. Manabang Batang Pisang

Tanggal 5 Muharram, batang pisang ditebang sekali tebas sebagai simbol keberanian putra Imam Husain dan ketajaman pedang dalam perang Karbala.

3. Bacakak dan Maatam

Prosesi tari perkelahian disebut Bacakak diiringi gendang tasa untuk menggambarkan peperangan. Pada 7 Muharram, Maatam dilaksanakan oleh perempuan yang meratapi kematian Husain, sementara Maarak Jari-jari memperlihatkan tiruan jari-jari korban perang sebagai simbol kekejaman Raja Yazid.

4. Tabuik Naik Pangkat dan Hoyak Tabuik

Puncak festival pada 10 Muharram, dua bagian tabuik disatukan menjadi satu, diarak di jalan menuju Pantai Gandoriah, dan dibuang ke laut sebagai simbol pelepasan dan penghormatan bagi yang meninggal. Prosesi ini diiringi pesta Hoyak Tabuik dan bunyi gendang yang menggema sepanjang jalan.

Gendang Tabuik dan Peralatan Ritual

Gendang tasa atau gendang tabuik mengiringi seluruh rangkaian prosesi dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Berukuran tinggi 54 cm, diameter 46 cm, dihias warna-warni, dimainkan secara ritmis untuk menggambarkan suasana peperangan dan kesedihan. Peralatan lain termasuk Daraga (keranda hias), sorban, pedang, dan miniature tabuik untuk ritual Maarak Saroban.

Tabuik Sebagai Pesta Budaya dan Pariwisata

Kini, festival tersebut telah menjadi pesta budaya yang melibatkan seluruh masyarakat Pariaman, tidak hanya pelaksana adat. Kegiatan ini mempromosikan wisata lokal, kuliner khas, kerajinan miniatur sebagai souvenir, serta meningkatkan perekonomian masyarakat. Festival ini juga pernah dipamerkan di Jerman dan Amerika Serikat untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara.

Penutup

Festival budaya ini menjadi salah satu daya tarik wisata utama Pariaman, menghadirkan ribuan pengunjung setiap tahunnya. Pemerintah daerah mendukung pengembangan infrastruktur dan fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung serta melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang festival budaya dan tradisi di Negeri Kami. Mari pahami makna sakral dan pelestarian warisan budaya melalui pengalaman langsung setiap prosesi.

Search

Video

Budaya Detail

Sumatera Barat

Acara Sakral

Kota Pariaman

Budaya

Budaya Lainnya