Sekura – Tradisi pesta topeng masyarakat Lampung Barat yang digelar untuk merayakan Idulfitri. Perayaan ini bertujuan menampilkan kegembiraan, mempererat hubungan sosial, dan menjadi wadah berkumpulnya warga selepas menjalani ibadah Ramadan. Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak sebelum masuknya Islam ke wilayah Lampung Barat, meskipun sebagian peneliti lain menyebut kemunculannya bersamaan dengan penyebaran Islam di daerah tersebut.
Sebagai pesta rakyat yang terus dijalankan lintas generasi, Sekura tidak hanya menampilkan keceriaan, tetapi juga melestarikan nilai budaya yang tumbuh dalam masyarakat pesisir Lampung Barat. Menurut Wikipedia, topeng berwarna-warni, musik tradisional, serta pertunjukan kreatif menjadi daya tarik utama yang membuat tradisi ini terus bertahan dan berkembang hingga kini.
Sejarah dan Perkembangan Sekura
Akar Historis Tradisi Sekura
Tradisi yang memiliki hubungan erat dengan budaya topeng Indonesia. Dalam sejarah Nusantara, topeng dikenal dengan istilah seperti atapukan, partapukan, dan lapel. Bukti penggunaan topeng tercatat dalam beberapa prasasti kuno, termasuk Prasasti Wahara Kuti tahun 762 Shaka (840 M), Prasasti Bebetin tahun 818 Shaka (896 M), dan Prasasti Gurun Pai. Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa Raja Hayam Wuruk pada masa mudanya dikenal mahir menari dalam pertunjukan topeng yang menggunakan kedok sebagai elemen utama.
Penelitian seperti yang ditulis oleh Dana (2010) menyebut bahwa penggunaan topeng di Indonesia sudah berkembang sejak abad ke-9 dan terus berevolusi. Dalam konteks Lampung Barat, asal-usul Sekura diduga telah berlangsung sebelum maupun setelah masuknya Islam. Perbedaan pandangan mengenai masa awal munculnya tradisi ini menjadi bagian dari dinamika sejarahnya.
Revitalisasi dan Transformasi di Era Modern
Memasuki abad ke-20 dan 21, Sekura mengalami revitalisasi besar. Selain tetap menjadi perayaan masyarakat setelah Idulfitri, tradisi ini juga dikembangkan menjadi seni pertunjukan seperti tarian topeng yang tampil dalam festival budaya. Program pemerintah daerah turut mendorong pelestariannya sebagai identitas budaya Lampung Barat, menjadikannya bukan hanya pesta, tetapi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
Bentuk Pertunjukan dan Unsur Khas Sekura
Topeng, Kostum, dan Ekspresi Budaya
Ciri paling mencolok dari tradisi sekura adalah penggunaan topeng oleh para peserta. Topeng dapat terbuat dari kayu, kain, atau riasan wajah, menampilkan beragam karakter mulai dari yang jenaka, polos, hingga yang garang. Melalui topeng, masyarakat mengekspresikan kreativitas dan kebebasan berekspresi.
Kostum pun bervariasi, dari pakaian warna-warni hingga aksesoris unik yang memeriahkan suasana. Dalam beberapa penampilan, Sekura disertai gerakan dan tarian tertentu seperti Sekura Kamak atau Helau. Selain sebagai hiburan, seluruh unsur ini mengandung makna sosial tentang kebersamaan, solidaritas, dan ekspresi budaya masyarakat Lampung Barat.
Waktu Pelaksanaan dan Fungsi Sosial Sekura
Lebaran Sebagai Momentum Besar
Tradisi Sekura biasanya dilaksanakan pada hari-hari awal bulan Syawal, mulai dari 1 hingga 6 atau 7 Syawal, dan berlangsung secara bergilir antar pekon. Masyarakat menyambut Idulfitri dengan suka cita melalui parade topeng, arak-arakan, serta pertunjukan yang menarik perhatian wisatawan lokal.
Membangun Solidaritas dan Identitas Lokal
Fungsi sosial Sekura sangat kuat. Tradisi ini menjadi media rekonsiliasi sosial, ajang saling memaafkan, hiburan untuk masyarakat, sekaligus penguat solidaritas antarwarga. Di era modern, Sekura juga berkembang menjadi daya tarik pariwisata budaya yang memperkenalkan Lampung Barat ke masyarakat luas.
Penutup
Sekura Lampung merupakan warisan budaya yang menampilkan kehangatan, kreativitas, dan kebersamaan masyarakat Lampung Barat saat Lebaran. Tradisi ini bukan hanya pesta topeng, tetapi juga cermin perjalanan sejarah, nilai sosial, dan identitas daerah yang terus dijaga dari masa ke masa. Di tengah perkembangan zaman, Sekura tetap menjadi ruang untuk mengekspresikan kegembiraan dan mempererat hubungan antarwarga.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang budaya Nusantara, tradisi daerah, dan kisah inspiratif dari berbagai penjuru Indonesia di Negeri Kami. Mari lestarikan kekayaan budaya dan nilai-nilai tradisi bangsa melalui pengetahuan dan pengalaman nyata.



