Bingka – Kue khas Suku Banjar, Kalimantan Selatan, yang terkenal dengan rasa manis dan teksturnya lembut. Kue ini selalu hadir dalam berbagai tradisi, termasuk pernikahan, selamatan, dan bulan Ramadan sebagai hidangan berbuka puasa.
Kue ini dibuat dari tepung terigu, telur, santan, gula, dan garam, biasanya dipanggang menggunakan cetakan berbentuk bunga. Menurut Wikipedia dan Indonesia Kaya, variannya beragam, seperti bingka tapai ketan, kentang, labu, pandan, kelapa, hingga bingka berendam yang disajikan dengan kuah gula merah.
Sejarah dan Asal-usul Bingka
Bingka awalnya merupakan kudapan istimewa bagi bangsawan, konon diciptakan oleh Putri Junjung Buih dari Kerajaan Daha. Seiring waktu, resepnya menyebar ke masyarakat umum di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Pontianak, Kalimantan Barat. Kue ini juga dikenal di Malaysia, Brunei Darussalam, dan di Filipina selatan dengan nama bibingka.
Tradisi pembuatan bingka menggunakan arang kayu pohon atau bakau sebagai sumber panas, sehingga kue matang merata dengan tekstur lembut yang khas. Satu loyang biasanya cukup untuk enam orang, menjadikannya camilan sekaligus simbol keramahan dalam budaya Banjar.
Ragam Jenis Bingka Banjar
Bingka hadir dalam berbagai varian rasa:
- Bingka Tapai Ketan: Memanfaatkan tape ketan hijau, bisa dikukus atau dipanggang.
- Bingka Gula Merah: Terbuat dari gula merah dan santan, dipanggang hingga berwarna kecoklatan.
- Bingka Kentang: Campuran tepung terigu, tepung beras, gula, dan kentang, dicetak menyerupai bunga.
- Bingka Berendam: Kue direndam dalam kuah gula merah, dipotong kecil agar mudah disantap.
Inovasi rasa modern juga muncul, seperti bingka nangka, pandan, labu, keju, dan kismis, menyesuaikan selera masyarakat saat ini.
Bingka dalam Tradisi Banjar
Kue bingka bukan sekadar camilan, tetapi bagian dari ritual budaya. Dalam pernikahan atau selamatan, bingka disajikan sebagai salah satu dari 41 jenis kue tradisional, simbol rasa syukur dan kebahagiaan. Selama Ramadan, bingka menjadi primadona untuk berbuka puasa di Kalimantan Selatan dan Timur. Bingka juga menjadi oleh-oleh khas dari Banjarmasin dan Balikpapan, sehingga pengunjung dapat membawa pulang cita rasa tradisional Banjar untuk dinikmati bersama keluarga.
Penutup
Bingka adalah simbol tradisi dan budaya Banjar yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Rasa manis dan tekstur lembutnya menjadikannya camilan istimewa yang selalu dirindukan masyarakat. Kue ini juga menjadi bagian penting dalam berbagai perayaan adat dan keagamaan, menunjukkan nilai budaya yang melekat di setiap lapisan masyarakat Banjar.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.


