Cakalele – Tarian perang tradisional Maluku yang digunakan untuk menyambut tamu ataupun dalam perayaan adat. Biasanya, tarian ini dibawakan oleh 30 pria dan wanita, dilakukan secara berpasangan dengan iringan musik drum, suling, dan bia (musik tiup).
Tarian ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga sarat makna sakral dan simbolik. Menurut Gramedia dan Wikipedia, pertunjukan Cakalele menghormati nenek moyang pelaut Maluku, di mana arwah leluhur terkadang diyakini hadir saat pementasan, memberikan restu dan energi bagi masyarakat setempat.
Sejarah dan Perkembangan Cakalele
Menurut Kemdikbud, kata “cakalele” terdiri dari “caka” yang berarti setan atau roh dan “lele” yang berarti mengamuk, sehingga secara harfiah bermakna roh yang mengamuk. Tarian ini sakral dan hanya boleh ditarikan oleh masyarakat desa adat di Kepulauan Banda. Dari 12 desa di Kepulauan Banda, hanya delapan desa yang mempertahankan tradisi ini.
Sejak dulu, Cakalele dipentaskan dalam berbagai upacara adat seperti pelantikan raja, perayaan hari Pattimura, peresmian Baileo, serta ritual sebelum pelaut pergi mengarungi laut. Tarian ini melambangkan penghormatan terhadap leluhur, semangat keberanian, dan perjuangan rakyat Maluku.
Properti dan Kostum Penari Cakalele
Para penari pria mengenakan parang dan salawaku (perisai), serta kostum berwarna merah dan kuning dengan penutup kepala yang disisipi bulu putih. Celana merah melambangkan kepahlawanan dan patriotisme, sedangkan parang di tangan kanan melambangkan martabat yang harus dijaga sampai mati. Teriakan keras penari melambangkan protes terhadap ketidakadilan.
Penari perempuan membawa lenso (saputangan) dan mengenakan pakaian adat berwarna putih. Lenso digunakan untuk mengkibas sebagai ucapan salam perjuangan kepada prajurit. Musik pengiring terdiri dari gong, tifa, dan bia, yang mengatur ritme dan energi pertunjukan.
Keunikan dan Fungsi Cakalele
Cakalele memiliki keunikan, antara lain dominasi penari laki-laki, teriakan khas “uale” yang berarti darah yang membanjir, serta penggunaan darah ayam sebagai simbol persembahan pada roh leluhur. Tarian ini memiliki empat fungsi utama: mengantar prajurit berperang, bagian dari upacara adat sakral, penghormatan kepada nenek moyang, dan hiburan masyarakat dalam versi festival. Cakalele festival biasanya dipentaskan 5 – 7 menit untuk menyambut tamu, sementara versi tradisional sakral dapat berlangsung lebih lama.
Gerakan dan Pola Lantai
Gerakan Cakalele lincah, termasuk jingkrak-jingkrak, untuk mengobarkan semangat. Penari perempuan mengibaskan saputangan sebagai simbol perpisahan dengan pejuang. Pola lantai umumnya berupa garis lurus horizontal, tetapi kadang dikombinasikan untuk memperindah pertunjukan.
Penutup
Cakalele adalah simbol keberanian, penghormatan pada leluhur, dan kekayaan budaya Maluku yang sakral. Tarian ini tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai warisan tradisi yang kaya makna.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Maluku dan Indonesia.


