Balai Kota Jakarta – Salah satu bangunan ikonik yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah pemerintahan ibu kota. Menurut laporan dari Wikipedia, Gedung ini menjadi tempat kerja resmi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sekaligus pusat administrasi yang terus berkembang mengikuti dinamika kota.
Sebagai pusat pemerintahan, menurut laporan dari Biro Umum Jakarta, Balai Kota DKI Jakarta tidak hanya menjadi ruang kerja bagi ASN, tetapi juga menyimpan catatan sejarah penting yang dapat dikenali publik. Dari masa kolonial hingga era modern, Balai Kota telah mengalami berbagai perpindahan, perubahan fungsi, dan perluasan kawasan, sehingga menjadikannya salah satu pusat pemerintahan paling bersejarah di Indonesia.
Sejarah Balai Kota Jakarta dari Masa Belanda
Perpindahan dari Oud Batavia ke Weltevreden
Pada awalnya, pusat pemerintahan kota Batavia berada di De Oude Stadhuis, bangunan abad ke-18 di Stadhuisplein, kini Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua. Namun perkembangan kota yang bergerak ke arah selatan menjadikan lokasi tersebut terlalu jauh dari pusat aktivitas kota. Karena itu, kantor pemerintahan Stad Batavia yang dibentuk tahun 1905 kemudian berpindah ke daerah Weltevreden.
Tahun 1913, kantor Balai Kota pindah ke Tanah Abang West (Jl. Abdul Muis No. 35). Enam tahun setelahnya, pada 1919, kantor kembali dipindah ke Koningsplein Zuid (Jl. Medan Merdeka Selatan No. 8-9). Bangunan No. 8 digunakan sebagai kantor dan kediaman Residen Jawa Barat, sementara No. 9 dipakai sebagai Gemeentehuis Batavia dan kediaman Burgemeester, sebelum akhirnya menjadi kantor Balai Kota sepenuhnya.
Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi
Saat Jepang berkuasa (1942-1945), gedung ini dijadikan kantor Jakarta Tokubetsusi. Setelah Indonesia merdeka, namanya berubah menjadi Balai Agung Pemerintahan Nasional Kota Djakarta dengan wali kota pertama Soewirjo. Namun kondisi bergejolak pada 1947 membuat pemerintahan sempat terhenti, bahkan pejabat Jakarta ditangkap Belanda. Baru setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, pemerintahan kembali berjalan normal.
Perkembangan Setelah Masa Revolusi
Mulai 1950, Soewirjo kembali menjabat wali kota dan Jakarta menjadi Kotapraja Djakarta. Pada 1954, gedung No. 8 digabungkan sehingga Balai Kota menempati dua bangunan utama. Gedung eks Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di sampingnya juga diambil alih untuk kantor pemerintah dan DPRDGR.
Memasuki 1960, Jakarta berubah status menjadi daerah setingkat provinsi. Sebutan wali kota diganti menjadi gubernur dan pada 1964 Jakarta resmi menjadi ibu kota negara. Pengembangan kompleks berlanjut pada 1969 lewat pembangunan Blok C (Balai Agung) dan Blok F empat lantai.
Perkembangan Modern Kompleks Balai Kota Jakarta
Ekspansi Besar pada 1970-1980-an
Tahun 1972, ejaan baru mengubah nama DCI Djakarta menjadi DKI Jakarta. Pada tahun yang sama, bangunan lama di Medan Merdeka Selatan No. 9 dibongkar dan diganti gedung bertingkat 24 yang kini dikenal sebagai Blok G, menjadi percontohan pembangunan gedung tinggi Jakarta. Pemerintah juga membangun Blok H untuk Dinas Pendapatan Daerah, serta gedung lain seperti Blok D dan Blok F untuk sarana kantor. Satu dekade kemudian, pada 1982, pemerintah DKI membangun gedung DPRD Jakarta yang menghadap ke Jalan Kebon Sirih sebagai sarana menampung aspirasi masyarakat.
Transformasi Balai Kota pada Era 2000-an hingga Kini
Pada 2010, Pemprov DKI membangun gedung DPRD dan Blok H baru yang modern dan ramah lingkungan. Renovasi lanjutan berlangsung pada 2012-2013 melalui retrofit Blok G, dilanjutkan pembangunan Masjid Balai Kota dan retrofit Blok D pada 2015.
Periode 2016-2019 menjadi fase transformasi besar. Balai Kota tidak lagi sekadar kawasan perkantoran pegawai, melainkan ruang publik dan pusat kegiatan. Fasilitas seperti Masjid Fatahillah dan Jakarta Smart City Lounge dibangun untuk memperluas fungsi pelayanan. Di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Balai Kota juga dibuka untuk umum melalui Wisata Balai Kota yang menarik banyak pengunjung setiap akhir pekan.
Balai Kota Jakarta sebagai Pusat Administrasi dan Ruang Publik
Kini, Balai Kota Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai kantor pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang interaksi masyarakat. Pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas publik dan mengenal sejarah panjang gedung yang telah melalui masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, hingga era modern. Transformasi ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan Balai Kota sebagai pusat pelayanan publik yang inklusif, modern, dan tetap berakar pada sejarah panjang ibu kota.
Penutup
Sejarah panjang Balai Kota DKI Jakarta membuktikan bahwa bangunan ini bukan hanya simbol pemerintahan, tetapi juga bagian penting dari perjalanan kota. Dari masa kolonial hingga era digital, Balai Kota terus beradaptasi dan berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat Jakarta.
Untuk mengetahui berbagai informasi budaya, kota, dan perkembangan kreatif, kamu dapat membaca berita dan artikel menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga berbagai kisah inspiratif yang memperkaya wawasan tentang Indonesia.